fbpx
Rabu , 25 November 2020
Beranda / Artikel / Antara Corona, Anak dan Tahun Ajaran Baru
Sumber: kompastv. Kemendikbud Tegaskan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Tetap Dimulai 13 Juli 2020

Antara Corona, Anak dan Tahun Ajaran Baru

Oktarina Mahardiani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Wabah corona masih belum ingin berlalu dari Indonesia sejak diumumkan secara resmi mulai masuk pada awal Maret 2020.  Sampai dengan tanggal 5 Juni 2020 dari data Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 kasus pasien positif bertambah 703 sehingga mencapai angka 29.521 orang. Dan ternyata ada beberapa pasien yang masih anak-anak berusia kurang dari 18 tahun. Menurut data Kementrian Kesehatan sampai dengan Sabtu (30/5/2020) kasus pasien anak positif sebanyak 1.851 orang dengan kasus meninggal sebanyak 29 kasus. Rata-rata banyaknya kasus pasien positif pada anak dikarenakan tertular dari orang tua ataupun lingkungan terdekatnya. 

Dari data ini, tingkat kematian anak akibat virus corona di Tanah Air ternyata paling tinggi di negara ASEAN seperti dilansir VOA Indonesia, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan, “Kalau dibandingkan negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian) dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam,” ungkap Aman (kompas.com 4/6/2020)

Meskipun demikian keadaannya, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. “Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Hamid seperti dikutip dari laman Kemendikbud (28/5) (kumparan.com 1/6/2020).

Ini tentu bukanlah hal yang mudah bagi para orang tua ketika mengetahui bahwa ternyata anak-anak juga rentan terhadap virus corona. Apalagi menjelang tahun ajaran baru ini, pemerintah tetap mengawali pada tanggal 13 Juli meskipun Indonesia sedang menghadapi pandemi. Kegelisahan para orang tua ini sempat dicurahkan oleh Atiek Wideo, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD. Merasa bahwa ada banyak anak, orang tua dan tenaga pengajar yang tak siap bila proses belajar tatap muka dilakukan di tengah pandemi, maka kegundahan ini harus ada muaranya dengan menggagas petisi ‘Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi’ di laman change.org. Watiek berharap, pemerintah mau mempertimbangkan saran Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk tetap melaksanakan metode pembelajaran jarak jauh mengingat sulitnya melakukan pengendalian transmisi apabila terbentuk kerumunan (kumparan.com 1/5/6/2020).

Senada yang disampaikan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. Retno juga meminta kepada pemerintah agar membuka sekolah kembali setelah kasus positif corona menurun bahkan menjadi nol kasus (okenews.com 27/5/2020).

Kekhawatiran para orang tua tentang awal tahun ajaran baru saat ini adalah sesuatu yang wajar. Mengingat tahun ajaran baru sekarang berada dalam sebuah pandemi yang belum berakhir. Sementara melihat data yang ada ternyata corona juga menyerang anak-anak. Apalagi sekarang, seolah senada dengan kebijakan pemerintah yang akan menerapkan  new normal life, wacana sekolah akan dibuka kembali ketika memasuki tahun ajaran baru ini semakin menambah kegelisahan para orang tua. 

Sudah pasti sangat merepotkan untuk membuat anak-anak harus mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker ketika belajar di sekolah, mengingatkan mereka untuk mengganti masker setiap empat jam sekali atau ketika sudah basah dan kotor, serta tetap menjaga jarak. Padahal yang kita ketahui anak-anak, terutama usia sekolah TK dan SD sangat aktif bergerak. Tambahan wajib memakai masker saja bagi mereka menghambat aktivitas. Sehingga orang tua harus punya jaminan ekstra agar anak-anak mematuhi standar kesehatan yang baru ketika sekolah dibuka kembali. 

Persoalan utama yang sebenarnya adalah kewajiban negara dalam menangani pandemi hingga ke akarnya belum tuntas tetapi sudah akan membuat kebijakan yang bisa mengancam generasi penerus bangsa ini. Kebijakan yang mengarah kepada adaptasi dengan pandemi tidak mampu melindungi anak-anak sebagai aset umat. Yang dipentingkan adalah kepentingan ekonomi sehingga yang lainnya, termasuk anak-anak hanya merupakan aset saja untuk perputaran perekonomian negara. Maka inilah yang terjadi saat negara mengambil sebuah sistem yang bathil yaitu demokrasi kapitalisme dan menjadikannya aturan bernegara. 

Lain halnya dengan Islam yang memandang bahwa anak-anak adalah aset untuk meneruskan umat. Dia adalah generasi penerus yang harus dibina sekaligus dipenuhi seluruh kebutuhannya dengan baik. Sehingga jaminan dari negara terhadap perlindungannya harus menyeluruh. Untuk pendidikan pun negara berkewajiban memberikan yang terbaik dan tidak dipungut biaya. Anak-anak menimba ilmu dalam keadaan aman dan tenang sehingga nantinya mampu memberikan kemaslahatan untuk umat. Yang paling utama negara tentu akan menyelesaikan persoalan pandemi ini sampai tuntas terlebih dahulu dengan kebijakan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para khalifah di masa kekhilafahan disamping tetap memberikan jaminan hak yang memang harus diperoleh oleh rakyat sebagai warga negara. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Tetap Optimis menjadi Golongan Kanan di Tengah Pandemi COVID-19

Lebaran tahun ini sungguh istimewa. Mudik yang merupakan tradisi masyarakat di Indonesia mesti penuh resiko …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *