fbpx
Rabu , 15 Juli 2020
Beranda / Artikel / New Normal Life, Solusi ataukah Ancaman The Second Wave
Sumber: Bersiap new normal (ayobandung.com)

New Normal Life, Solusi ataukah Ancaman The Second Wave

Penulis: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Di tengah semakin naiknya kurva kasus corona  dan belum terlihat ada tanda-tanda angka penurunan korban Covid-19. Pemerintah mulai mewacanakan kehidupan normal baru (new normal life). Masyarakat diharapkan dapat segera melaksanakan aktivitas seperti biasa, tetapi dengan cara yang baru.

Pemerintah akan mengatur agar kehidupan masyarakat secara perlahan dapat berjalan normal. Asumsi yang digunakan dalam konsep kehidupan normal baru adalah virus corona belum bisa dibasmi dalam waktu dekat. Sehingga dalam proses menunggu hingga anti-virus tersebut ditemukan (atau virus corona menghilang), masyarakat diharapkan kembali beraktivitas dengan tetap memperhatikan ancaman virus yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya. Masyarakat beraktifitas dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan mulai memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, mengutamakan transaksi non tunai dan lain-lain. (detiknews.com, 26/5/2020).

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Karena pemerintah dianggap belum siap menerapkan pola hidup yang disebut “new normal life“. Pemerintah dianggap belum memenuhi beberapa syarat yang telah ditetapkan yaitu Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Dua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal life. Selanjutnya Hermawan menanyakan apakah hal ini sudah berlangsung dan sudah terjadi?, rasanya belum,lanjutnya. (merdeka.com, 25/5/2020)

Apakah  new normal life ini merupakan jawaban solusi atas situasi pandemi covid-19 ataukah Justru itu merupakan bentuk kekalahan telak dari semua negara demokrasi sekuler hari ini? Atau bahkan akan menjadi ancaman terjadinya The Second Wave?

New normal life adalah sebuah kehidupan baru yang normal digambarkan sebagai sebuah keadaan Manusia memasuki situasi dengan berbagai mekanisme yang berbeda dengan yang mereka jalani sebelumnya.

Munculnya istilah new normal life ini sangat berkaitan dengan perubahan mekanisme yang terjadi dalam dunia ekonomi dan bisnis. Jika kita lihat dahsyatnya dampak dari covid-19 di seluruh negara telah memukul semua sektor perekonomian mereka, baik dalam aspek riil ataupun dalam aspek non riil. Pada tahun 2019 kita lihat bahwa negara demokrasi sekuler mengalami krisis finansial dan menjadi semakin parah ketika memasuki tahun 2020 Covid-19 yang memukul telak sektor riil, sehingga tidak ditemukan formula yang bisa dijalankan untuk menggerakkan kembali roda perekonomian. 

Berbagai kebijakan fiskal dan kebijakan moneter sudah diambil tapi ekonomi juga tidak kunjung bergerak. Beberapa negara besar bahkan sudah jatuh ke dalam situasi resesi ekonomi karena dalam 2 kuartal tingkat pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau dalam posisi negatif.

Kemudian kita lihat pada perkembangannya, dunia dibawa ke satu suasana bahwa masyarakat di dunia diminta untuk bersiap menghadapi new normal life. Artinya manusia diminta untuk membiasakan diri beraktivitas dalam sebuah situasi yang bisa saja ketika mereka berada di tempat keramaian atau di tempat umum mereka akan tertular virus covid-19, dan bahkan menjadi pembawa virus yang akan mengancam semua penghuni rumah yang setia stay at home dalam hal ini mengancam seluruh anggota keluarganya.

Artinya tidak ada lagi kebijakan untuk meminta semua orang berada dalam rumah sampai wabah selesai. Tetapi ketika wabah tidak kunjung selesai, ekonomi mengalami macet maka yang kemudian diambil sebagai kebijakan negara adalah manusia diminta beraktivitas sebagaimana sebelumnya dengan beberapa penyesuaian. 

Dari sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya ini adalah upaya negara yang dilakukan untuk menggerakkan dunia perekonomian dengan resiko yang tentu sangat membahayakan nyawa manusia. Karena apabila kita melihat betapa mematikannya dampak Ketika seseorang terkena virus covid-19.

Ini sebenarnya situasi yang menjelaskan secara gamblang betapa semua negara demokrasi sekuler hari ini menunjukkan di depan mata kita kegagalan mereka untuk menjaga nyawa manusia, bahkan kemudian mereka seakan-akan tidak peduli dengan nyawa manusia ketika mereka dihadapkan pada situasi apakah menggerakkan roda ekonomi ataukah tetap berupaya keras menjaga keselamatan nyawa?. Begitulah peradaban barat menilai materi di atas segalanya, bahkan di atas nyawa rakyat sekalipun.

Dinyatakan Syaikhul Islam Al ‘Aaalim Taqiyuddin An Nabhani rahimahullah, dalam tulisannya berjudul Al Hadharah Al Islamiyah, buku An Nizhamul Islam, “Oleh karena itu tidak akan ditemukan dalam peradaban Barat nilai moral, atau nilai spiritual, atau nilai kemanusiaan, kecuali nilai materi saja.

Pertanyaannya, Kenapa bukan mekanisme ekonominya yang diganti?. Kenapa kemudian manusia yang diminta untuk menyesuaikan diri beraktivitas dengan risiko tertular mematikan?. Kenapa tidak dilakukan perubahan mekanisme perekonomian yang telah terbukti selalu menghasilkan krisis dan pada saat terjadi pandemi covid-19 keterpukulannya bahkan sampai ke sektor riil?.

Sementara di sisi lain ada jawaban untuk menggerakkan situasi ekonomi hari ini yang stagnan. Ada jawaban yang telah diberikan oleh risalah islam. Apabila manusia membutuhkan menggerakkan ekonomi secara masif ada jawaban dalam mikro ekonomi syariah. Apabila manusia membutuhkan stabilitas dalam perekonomian ada jawaban dalam makro ekonomi syariah. Ada jawaban dalam sistem moneter. Ada jawaban dalam sistem keuangan Baitul Mal. Ada jawaban dalam kebijakan fiskal, pungutan yang diterapkan dalam negara berbasis Syariah.Kenapa itu semua tidak dilakukan?

Maka terlihat dengan jelas betapa peradaban negara demokrasi sekuler hari ini memang tidak memposisikan nyawa manusia sebagai sesuatu yang berharga. Berbeda sekali dengan peradaban Islam yang pernah tegak di permukaan bumi selama 13 abad. Negara Khilafah, ketika memimpin mercusuar peradaban dunia mendudukkan nyawa manusia menjadi satu hal yang sangat penting. Karena mereka mengingat firman Allah Taala: 

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (QS. Al Maidah: 32). []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Kehidupan Baru Pasca Pandemi?

Perlawanan terhadap virus Covid-19 belum berakhir. Kehawatiran masyarakat untuk keluar rumah masih besar, namun wacana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *