fbpx
Rabu , 15 Juli 2020
Beranda / Artikel / Kehidupan Baru Pasca Pandemi?
Sumber: bisnis.tempo.co

Kehidupan Baru Pasca Pandemi?

Penulis: Isna Yuli
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Perlawanan terhadap virus Covid-19 belum berakhir. Kehawatiran masyarakat untuk keluar rumah masih besar, namun wacana pemerintah untuk bertahap menuju new normal life atau kondisi normal yang baru bisa dipastikan segera diterapkan. New normal life adalah kondisi ketika manusia pada akhirnya harus hidup berdampingan dengan ancaman virus Covid-19. Dalam situasi pandemi berkepanjangan seperti ini, tidak hanya Indonesia saja yang mengadopsi istilah new normal life. Beberapa negara di Asia perlahan juga telah membuka gedung dan fasilitas publik, meskipun angka penyebaran Covid-19 masih belum sepenuhnya turun. 

Salah satu alasan kuat yang mendorong segera diberlakukannya new normal life adalah ekonomi. Begitulah watak asli negara sekuler, mereka tak bisa berlama-lama hidup dalam keterpurukan perekonomian. Krisis finansial yang terjadi sejak 2019 di berbagai negara menjadi gerbang kegelapan bagi kapitalisme. Memasuki 2020 perekonomian semakin lemah akibat hantaman Covid-19. Nafas perekonomian sektor riil maupun non riil semakin sesak akibat lockdown, karantina maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar. Jika sektor sosial tak segera dipulihkan, maka kerugian akan menjadi ancaman besar bagi pelaku bisnis dan negara.  

Lantas, bagaimana nasib rakyat jika sektor sosial kembali dibuka? Masyarakat bekerja seperti biasa, perkantoran kembali seperti sediakala, pasar dan pusat perbelanjaan kembali dibuka. Masyarakat dihimbau untuk menjaga kesehatan dan tetap memperhatikan sejumlah protocol kesehatan dalam ruang publik, karena ancaman tertularnya virus Corona masih tetap harus diwaspadai. Masyarakat dibiarkan berjuang melawan covid-19 secara mandiri. Orang dengan imunitas tinggi akan mampu bertahan, sedangkan yang rentan dan tidak memiliki imunitas tinggi akan terdampak Covid-19. Dalam istilah lain inilah yang dimaksud dengan Herd Imunity. 

Jika kita menganalisis apakah solusi New normal life ini merupakan jawaban atas kondisi pandemic seperti saat ini, ataukah ini merupakan kekalahan telak bagi negara sekuler dalam mengatasi permasalahan Covid-19? 

Dalam menghadapi situasi pandemic saat ini tak ada formula efektif untuk menggerakkan roda perekonomian selain membuka kembali sektor publik. Saat wabah tak kunjung reda, beberapa kebijakan tumpang tindih semakin membingungkan masyarakat. Kebijakan menjaga jarak, diam dirumah, WFH (Work From Home) dan Sekolah di rumah akan terhapus oleh kebijakan New normal life. Masyarakat diminta untuk kembali beraktifitas seperti sediakala dibarengi dengan protocol kesehatan. Negara mengesampingkan kemungkinan tertularnya Covid-19 dikeramaian. 

Dalam kamus negara sekuler perekonomian tak boleh rugi. Apapun akan dikorbankan dan dilakukan demi meraih keuntungan besar. Meskipun nyawa rakyat sendiri yang menjadi taruhannya. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Mahfud MD yang menyebut kematian akibat Laka Lantas lebih besar dibanding dengan akibat Corona. Hal senada juga dilontarkan oleh  Luhut Binsar Panjaitan yang menyebut angka 20.000 kasus Corona di Indonesia masih dalam tahap wajar. 

Betapa pedih hati ini mendengar pernyataan pejabat negara yang tak menghargai nyawa rakyatnya. Hal ini juga semakin melukai hati paramedis yang belum beristirahat sejak pandemi ini bermula. Mereka yang berkorban hingga masyarakat yang menjadi korban seakan tak ada artinya bagi penguasa. Mereka hanya fokus bagaimana menggerakkan roda perekonomian kembali. 

Sudah selayaknya penguasa negeri ini merevisi kebijakan perekonomian yang berasas sekuler, karena perekonomian sekuler telah nyata dan berkali-kali hanya menghasilkan krisis. Cobalah tengok sistem perekonomian Islam yang menawarkan perekonomian syariah, sistem moneter, sistem keuangan Baitul Mal dan sistem kehidupan lain yang ada dalam Islam. Sebab sistem ini telah teruji selam 13 abad lamanya, tetap memuliakan nyawa rakyat namun tidak mengorbankan perekonomian. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

New Normal Life, Solusi ataukah Ancaman The Second Wave

Di tengah semakin naiknya kurva kasus corona  dan belum terlihat ada tanda-tanda angka penurunan korban …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *