fbpx
Rabu , 15 Juli 2020
Beranda / Artikel / Tetap Optimis menjadi Golongan Kanan di Tengah Pandemi COVID-19

Tetap Optimis menjadi Golongan Kanan di Tengah Pandemi COVID-19

Penulis: Septri Widiono
(Sosiolog Pedesaan Universitas Bengkulu)

Lebaran tahun ini sungguh istimewa. Mudik yang merupakan tradisi masyarakat di Indonesia mesti penuh resiko karena pandemi Covid-19. Orang menyebutnya kampung menyimpan sejuta kenangan. Kampung halaman adalah asal-usul orang-orang yang kini tinggal di daerah perkotaan. Nampaknya, kerinduan mendalam yang diikat tradisi ini harus dikekang terlebih dahulu mengingat ekskalasi wabah Covid-19 semakin tak terdeteksi.

Himbauan dan larangan mudik ke kampung menghadang sejumlah pemudik dari kota ke desa atau dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah-wilayah hinterland. Pandemi Covid-19 melegitimasi pemerintah daerah untuk melakukan penyekatan di sejumlah ruas jalan menuju daerahnya. Otoritas yang berada penuh di tangan kepala daerah dimainkan untuk mempersempit ruang gerak pemudik dengan mengerahkan aparatnya. Pemudik yang tidak mampu menunjukkan bukti dirinya warga daerah yang hendak dituju, harus balik arah.

Mudik ke kampung halaman mencerminkan masih berfungsinya struktur sosial masyarakat berkebudayaan agraris. Agraris tidak sesempit dipahami orang sebagai sistem ekonomi pertanian, akan tetapi suatu kebudayaan orang-orang yang tengah berupaya menaklukkan alam. Kekerabatan menjadi penting di samping sebagai sumber tenaga kerja bagi produksi ekonomi pertanian, lebih jauh daripada itu menjadi unit sosial tersendiri dalan aktivitas ekonomi dan budaya. Lihatlah bagaimana rekrutmen tenaga kerja pertanian selalu mengandalkan orang-orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Lihat juga bagaimana hubungan kekerabatan sangat menentukan berbagai proses politik praktis di tingkat desa, daerah, bahkan di pusat. Kekerabatan adalah ikatan paling mendasar pada masyarakat berkebudayaan agraris.

Kini pada saat masyarakat telah mendapatkan pengaruh yang amat besar dari kebudayaan industri, rupanya struktur itu tidak berubah. Kekerabatan setidaknya memegang peranan dalam alokasi solidaritas dan jaminan sosial bagi orang-orang yang terikat tali kekerabatan. Di sinilah, mudik mendapatkan arti yang mendalam. Menjalin silaturahmi adalah ungkapan dibalik makna-makna solidaritas dan jaminan sosial yang masih nyata dipertahankan oleh kita. Solidaritas yang tak mampu diekspresikan inilah yang membuat lebaran tahun ini terasa istimewa.

Menjadi Golongan Kanan

Bermula dari pergerakan penduduk, surplus ekonomi yang berhasil dikumpulkannya selama di kota dibawa pulang. Terjadilah pertukaran materi dalam berbagai bentuk hubungan timbal balik berbalut tradisi. Mulai dari uang receh hingga ratusan ribu berpindah tangan sebagai hadiah. Anak-anak menyebutnya THR. Belum lagi transaksi ekonomi yang terjadi di desa, volumenya meningkat sebagai akibat mengalirnya surplus itu dalam sistem ekonomi desa. Ini yang disebut remitansi ekonomi.

Disadari pula para pemudik telah menjadi kaum urban sekian tahun lamanya bekerja. Pulangnya mereka sekaligus membawa informasi, pengetahuan, dan gaya hidup yang siap dipertukarkan melalui berbagai ajang silaturahmi. Hampir semua bentuk kosmopolitanisme yang mampu diserap pemudik siap mempengaruhi tradisi dan cara pandang orang-orang di desa. Banyak hal di desa berubah, juga karena remitan budaya seperti ini.

Alih-alih terjadi remitansi, terhalangnya pergerakan mudik karena PSBB atau screening oleh para petugas di daerah-daerah, remitansi hampir tidak terjadi atau mengalami perubahan bentuk menjadi transfer secara tak langsung. Beruntung transfer tak langsung ini dimediasi oleh fintech dan platform media sosial. Ini hanya terjadi karena wabah penyakit yang tak kunjung berakhir. Pemaksaan diri melakukan pergerakan ke daerah justru akan membawa remitan penyakit itu sendiri.

Permasalahan kemiskinan pedesaan bisa menjadi semakin kronis bila remitan penyakit itu terjadi. Desa sebagai wilayah penyangga ekonomi pangan nasional akan terancam. Para petani menjadi kelompok paling rentan bila ini menjadi kenyataan. Patut disadari infrastruktur, kelembagaan, dan birokrasi pelayanan kesehatan masih sangat buruk. Akan terjadi hal-hal yang begitu menyulitkan dan menimbulkan dampak yang luar biasa apabila Covid-19 mewabah di desa-desa. Tentu saja kita tidak menghendaki hal ini terjadi.

Dalam momen lebaran ini patut diingat kembali makna bulan Syawal yang secara etimologi berarti “meningkat”. Bagi seorang muslim, ketakwaan sebagai hasil ibadah puasa bulan Ramadhan, akan terlihat manfaatnya pada bulan-bulan selanjutnya. Mereka akan mengalami peningkatan spiritual sekaligus meningkatnya jiwa saling membantu dan solidaritas sosial sebagai cerminan nilai-nilai ketakwaan itu. Transformasi nilai-nilai spiritual ke dalam ranah kehidupan bermasyarakat menjadi indikator peningkatan keberagamaan seorang muslim.

Tentu saja problematika yang tak kunjung selesai saat ini semacam kemiskinan dan keadilan sosial terus menjadi agenda utama orang-orang yang mengalami peningkatan ini. Baginya upaya membebaskan manusia dari perbudakan modern karena kapitalisme adalah sebenar-benar nilai ketakwaan sosial.

Orang-orang ini merupakan golongan kanan (ashabul maimanah) menurut QS. Al Balad: 17-18. Golongan kanan ini kelak di akhirat akan menerima catatan perbuatan dari sebelah kanan (QS. Al Insyiqaaq: 7-8) sebagai perlambang mendapatkan keselamatan. Mereka terdiri dari orang-orang yang membebaskan perbudakan, memberi makan orang-orang yang lapar, dan bersedekah kepada fakir miskin. Kemudian mereka tetap beriman dan saling menasihati kepada kesabaran dan kasih sayang sehingga terwujud tali persaudaraan. Ternyata golongan kanan menurut terminologi ini justru orang-orang yang membela kaum lemah dan tertindas, -tidak sama dengan pengertian menurut terminologi aliran politik.

Mudik yang tertunda tetap harus dipahami sebagai upaya menjadikan diri sebagai golongan kanan. Betapa problematika penghambaan, kelaparan, dan kemiskinan masih dipraktikkan karena eksisnya sistem kapitalisme pada berbagai sektor ekonomi dan budaya. Remitansi yang mungkin saja berubah menjadi transfer tak langsung dari kota ke desa, mengingatkan kita perlunya optimisme di tengah-tengah pandemi yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Optimis untuk tetap mengagendakan pembebasan manusia dari perbudakan modern. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

New Normal Life, Solusi ataukah Ancaman The Second Wave

Di tengah semakin naiknya kurva kasus corona  dan belum terlihat ada tanda-tanda angka penurunan korban …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *