fbpx
Rabu , 25 November 2020
Beranda / Artikel / Mimpi Mewujudkan Internet Layak Anak

Mimpi Mewujudkan Internet Layak Anak

Penulis: Isna Yuli
(Woman Movement Institute)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai internet di Indonesia belum layak anak karena masih ada iklan rokok yang mudah diakses dan dilihat anak-anak. “Sebagai contoh, salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak adalah tidak ada iklan, promosi, dan sponsor rokok. Bila masih ada iklan rokok, berarti internet di Indonesia belum layak anak,” kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin saat dihubungi di Jakarta, Minggu, 23/6 (tempo.co).

Menanggapi pernyataan dari KPPPA terkait internet layak anak bagi Indonesia patutlah kita melihat permasalahan ini dari berbagai sudut pandang. 

Pertama, belum ada standar baku kondisi internet layak anak di Indonesia. Di luar bahaya konsumsi rokok bagi kesehatan baik orang dewasa apalagi anak-anak, secara umum masyarakat pasti mendukung langkah pemerintah dalam melindungi generasi muda dari berbagai paparan kerusakan, baik fisik maupun mental. Namun, tidak ada jaminan jika semua iklan produk rokok dihapus lantas menjadikan anak aman mengakses internet. Apalagi jika yang dibatasi hanya sekedar iklan yang memeragakan rokok, sedangkan iklan rokok tanpa memperlihatkan produk rokoknya masih tergolong aman. Disadari atau tidak  contoh dan prilaku merokok lebih besar tersebar di media sosial serta konten lain dibanding iklan resmi produk rokok. 

Kedua, memasuki era globalisasi seperti saat ini, orangtua harus bijak dalam memberikan akses internet pada anak. Sebab pembelajaran, ilmu pengetahuan serta komunikasi sudah lekat dengan akses internet. Oleh karenanya pendampingan orangtua dalam hal ini sangat penting. Hal yang paling utama dan diperhatikan oleh orangtua adalah menyiapkan mental dan pemahaman anak. Mental anak bisa dibangun dari pondasi akidah yang kuat, pemahaman agama yang dimiliki akan menuntun dan menyaring segala konten yang diakses. 

Ketiga, manajemen waktu dalam mengakses internet bagi anak harus mendapat pengawasan khusus. Sebab, internet erat kaitannya dengan perangkat, bahaya terpapar radiasi, sakit mata, kehilangan keseimbangan, kecanduan dapat menjangkiti anak yang belum mampu mengontrol kebutuhan dengan gawai. Maka tugas orangtua lah yang harus tegas membatasi akses anak dengan gawai, meskipun tidak terkait dengan akses internet.

Keempat, bukan hanya iklan rokok yang dapat  merusak anak, melainkan bahaya game online serta konten berbau pornografi dan penyimpangan seksual lebih halus masuk ke dalam konten anak-anak berbalut kartun. Berbicara tentang  kartun anak, meskipun bentuknya kartun namun banyak yang berpotensi merusak anak sebab, banyak tokoh kartun yang tidak menampilkan gender dengan terang. Akibatnya, anak tidak mampu membedakan sosok dan prilaku sesuai gender, karena semua terlihat sama.

Kelima, sebenarnya tidak hanya dibutuhkan internet layak anak saja, namun seharusnya pemerintah mampu melindungi seluruh rakyatnya dari berbagai konten internet yang menyimpang dan merusak. Namun mimpi perlindungan negara bagi rakyat hanya isapan jempol jika negara masih bergandeng tangan bermesraan dengan pengusaha dan korporasi yang bermain dibelakang konten-konten yang merusak akal. 

Oleh sebab itu harus ada keberanian dari pemimpin untuk berlepas tangan dan kerjasama dengan siapapun yang berusaha merusak generasi muda. Termasuk dengan industri rokok, industri game online, penyedia konten-konten dewasa (yang faktanya mudah diakses anak). []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Bun, Begini Menyikapi Kesalahan Anak

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, begitu juga anak-anak. Namun sayangnya, banyak ibu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *