fbpx
Sabtu , 15 Agustus 2020
Beranda / Artikel / Merawat Optimisme, Sebab Jalan Perjuangan Masih Panjang

Merawat Optimisme, Sebab Jalan Perjuangan Masih Panjang

Penulis: Dr. Ahmad Sastra
(Dosen Filsafat Universitas Ibnu Khaldun, Bogor)

Berjuang menegakkan agama Allah itu berat. Memilih menjadi pejuang Islam itu banyak ujian dan hambatannya. Pertolongan Allah itu tidak gratis, namun membutuhkan keimanan, keyakinan, optimisme, pengorbanan, kesungguhan, kesabaran dan bahkan butuh waktu yang hanya Allah yang tahu.

Kemenangan Islam adalah janji Allah dan mutlak hak Allah, kapan dan dimana, hanya Allah yang tahu. Seorang mukmin hanya diminta oleh Allah untuk berjuang sejalan dengan ketentuan Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah, tidak boleh menyimpang sedikitpun.

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS al-Fath [48] : 21).  Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad : 7).

Dalam sejarah, Allah telah memenuhi janjiNya atas kemenangan Islam. Sinar pertama, dengannya Allah akan menaklukkan Yaman untukku. Sinar kedua, dengannya Allah akan menaklukkan Syam dan negeri (sebelah barat) untukku. Sinar yang ketiga, dengannya Allah akan menaklukkan negeri (sebelah timur) untukku. (Sirah Ibnu Hisyam)

Berjuang menegakkan Islam harus ikhlas, semata berharap kepada ridho dan pertolongan Allah. Jangan pernah tergoda oleh gemerlap dunia. Bersabarlah atas seluruh ujian perjuangan. Contohlah Nabi kita saat ditawari harta dan jabatan oleh kaum kafir quraisy agar menghentikan dakwah dan perjuangan Islam, beliau dengan tegas menolaknya. Bahkan jikapun mereka mampu meletakkan matahari di tangan kanan Rasulullah dan bulan di tangan kiri beliau sekalipun.

Contohnya optimisme perjuangan Thariq bin Ziyad (711M), “Lautan ada dibelakang kalian, sedangkan musuh ada di depan kalian dan tidak ada yang tertinggal pada diri kalian kecuali kebenaran dan kesabaran”.

Contohlah keyakinan dan kesabaran Saad bin Abi Waqash (634 M), “Dari Allah kami mencari pertolongan, dan hanya kepada-Nya kami bergantung. Allah adalah pelindung dan pemelihara kami. Demi Allah!, Dia pasti akan menolong hamba-Nya, Dia pasti akan menampakkan agamanya Dan Dia pasti akan menghinakan musuh-musuh Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah! Yang Maha Kuasa dan Maha Besar”.

Belajarlah dari kabar Rasulullah tentang penaklukan Konstantinopel, berdasarkan sabda beliau, “ Ketika kami duduk bersama dengan Abdullah bin Amru bin Al-Ash, beliau ditanya tentang kota manakah yang akan (futuh) dikuasai, Konstantinopel atau Roma? Abdullah bin Amru bin Al-Ash meminta diambilkan kotak miliknya yang ada lubangnya dan mengeluarkan kitab dari dalamnya dan berkata, “bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel)”. (HR Ahmad).

Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)

Maka sejak bisyarah Rasulullah diucapakkan, 800 tahun kemudian lahirlah Muhammad Al Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel. Al Fatih sejak kecil dididik dengan intensif oleh ulama pilihan, diantaranya Syaikh Aaq Syamsuddin, menguasai 7 bahasa ketika berumur 23 tahun, menjadi gubernur ibukota ketika berumur 21 tahun dan semenjak baligh hingga meninggal tak pernah meninggalkan rawatib dan tahajjud.

Maka dibentuklah Pasukan Inkisaria, sekitar 40.000 pasukan elit dengan program pelatihan terpadu sejak kecil. Pasukan Inkisaria dilatih fisik, akademis, strategi perang, ilmu ushul fiqh, dan semua disiplin ilmu lain. Setengah pasukan al-Fatih selalu melaksanakan tahajjud pada malam hari.

Muhammad Al Fatih berkhutbah di depan pasukan kaum muslimin, “Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan  dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam.

Al Fatih melanjutkan khutbahnya, “Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran”.

Maka tepat pada tanggal 29 Mei 1453, Muhammad Al Fatih berhasil memasuki Gate of Charisius, Gerbang masuknya Muhammad al-Fatih, seraya berucap, “.. Alhamdulillah !, semoga Allah merahmati para syuhada’, memberikan kemuliaan kepada mujahidin, serta kebanggaan dan syukur buat rakyatku“

Maka, teruslah merawat optimisme perjuangan Islam. Sebab hanya Islam jalan kebenaran. Imam Syafi’I berpesan, “ Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti.

Penting dipahami oleh para pejuang Islam, bahwa pertarungan antara yang haq dan batil adalah perang abadi selama masih ada kehidupan dunia. Rasulullah melakukan dakwah dan perjuangan melumpuhkan sistem jahiliyah dan menawarkan Islam. Rasulullah begitu optimis dengan hadirnya Islam akan melenyapkan kebatilan. Bagi Allah, kebatilan seperti buih yang lemah dan akan hilang.

Islam adalah kebenaran, sementara ideologi kapitalisme dan komunisme adalah kebatilan. Sejarah akan terus berulang, pertarungan haq melawan batil akan terus terjadi, maka yang dibutuhkan adalah peran perjuangan yang benar oleh kaum muslimin di seluruh dunia atas perang abadi ini.

Aktivitas dakwah dan politik Islam yang dilakukan Rasulullah dalam upaya melenyapkan berbagai sistem batil zaman jahiliyah diperkuat oleh ilmuwan Barat, Michael Hart, “ Dia mendirikan negara baru di sisi agama. Di bidang dunia, ia menyatukan kabilah-kabilah di dalam bangsa, menyatukan bangsa-bangsa di dalam umat, meletakkan buat mereka semua asas kehidupan”.

Berbagai kerusakan karena sistem batil mestinya menambah keyakinan untuk kembali kepada perjuangan penerapan hukum Allah dan melenyapkan hukum thoghut. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS Ar Ruum : 41).

Kepemimpinan ideologi Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah juga telah mengangkat manusia kepada tingkat kemuliaan yang paling tinggi. Manusia, oleh Islam dipandang sebagai hamba ciptaan Allah yang sempurna. Semua potensi kebaikan dikerahkan dalam membangun peradaban, sementara potensi keburukan dicegah agar tidak destruktif terhadap kehidupan manusia.

Para pejuang Islam hari ini harus belajar dari optimisme Rasulullah pada saat perang Uhud. Meski telah menjadi fakta sejarah bahwa pasukan Rasulullah mengalami kekalahan di perang Uhud, namun peristiwa itu tidak menyurutkan Rasulullah untuk tetap memberikan semangat kepada kaum muslimin. Setelah memakamkan para mujahid yang gugur di perang Uhud, Rasulullah kembali melakukan demo militer untuk mengobarkan ruh jihad kaum muslimin.

Bahkan Rasulullah melakukan gerakan untuk menakut nakuti musuh dan memperlihatkan kepada orang-orang Yahudi, munafik dan Arab bahwa kekalahan dalam perang Uhud tidaklah berpengaruh terhadap lemahnya semangat dan kemampuan bertempur kaum muslimin.

Dari peristiwa sejarah kekalahan perang Uhud ini dapat diambil setidaknya lima  pelajaran untuk perjuangan politik Islam umat hari ini : Pertama, perang Uhud menjelaskan bahwa kemenangan Islam itu tidak terkait dengan jumlah. Kedua, perang Uhud menjelaskan pentingnya membersihkan barisan kaum muslimin dari orang-orang munafik dan yang beraqidah lemah.

Ketiga, perang Uhud mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa sunnah kehidupan [sebab akibat] itu tidak dapat digantikan. Keempat, perang Uhud mengajarkan kepada kaum muslimin pentingnya disiplin militer dan memegang teguh perintah pemimpin, bagaimanapun kondisi dan situasinya. Kelima, perang Uhud mengajarkan pentingnya konsisten dengan niat sejak awal untuk memperjuangkan tegaknya Islam dan melenyapkan kebatilan.

Aksi bela Islam 212 yang menghadirkan 7 juta kaum muslimin adalah bentuk kesadaran politik Islam yang harus terus dirawat. Secara esensi kesadaran politik Islam mencakup tiga aspek. Pertama, aspek kesadaran akan urusan umat dan rakyat. Kedua, aspek sudut pandang yang khas yakni Islam sebagai landasan kesadaran politik. Ketiga, aspek sudut pandang global, dimana konstalasi politik di Indonesia adalah bagian dari dinamika politik dunia.

Umat Islam harus yakin dan berani untuk terus melakukan delegitimatisasi kapitalisme demokrasi hingga roboh berkeping-keping. Gelombang kebangkitan umat Islam sedunia akan menuntut adanya perubahan sistem, dari hegemoni demokrasi menjadi hegemoni Islam. Dengan demikian, Islam sebentar lagi tegak yang akan menyatukan umat Islam sedunia, menerapkan syariah Islam kaffah dan akan menebarkan dakwah rahmatan lil’alamin ke seluruh penjuru dunia. Maka saat itulah kebatilan sistem jahiliah komunisme dan kapitalisme akan lenyap dari muka bumi.

Allah mengumpamakan yang benar dan yang batil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya. yang benar sama dengan air atau logam murni yang bathil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia. “ Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (QS Ar Ra’d : 17).

Kesungguhan dan optimisme Rasulullah dalam melakukan dakwah dan perjuangan politik Islam dikarenakan kayakinan akan  janji Allah yang akan memberikan kemenangan yang haq (islam) atas sistem kufur jahiliah. “ Dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (QS Al Isra’ : 81).

Dari sinilah, maka umat Islam hari harus merawat optimisme dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Allah ini. Kekuatan politik Islam harus selalu dilandasi oleh keimanan yang kokoh,  keyakinan akan pertolongan Allah, ukhuwah antar seluruh kaum muslimin, keikhlasan dalam  berjuang dan pengorbanan yang tulus, baik harta, pikiran, tenaga dan jiwa.

Maka adalah sebuah keharusan bagi umat Islam untuk melakukan dakwah dan perjuangan secara terartur dalam bentuk partai politik Islam sejati. Jika demikian, maka optimisme perjuangan Islam adalah gabungan antara keyakinan dan harapan  akan pertolongan Allah, kesungguhan dalam berjuang serta kesabaran akan segala ujian di jalan dakwah.

Pada akhirnya semua akan berakhir indah, yakni kemenangan Islam. Sebagaimana janji Allah, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS An Nashr : 1-3). []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Meluruskan Labelisasi Islam

Pasca berakhirnya perang fisik, kini umat Islam harus menghadapi perang non fisik. Neokolonialisme yang ditandai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *