fbpx
Rabu , 25 November 2020
Beranda / Artikel / Meluruskan Labelisasi Islam

Meluruskan Labelisasi Islam

Penulis: Dr. Ahmad Sastra
(Dosen Filsafat Universitas Ibnu Khaldun, Bogor)

Pasca berakhirnya perang fisik, kini umat Islam harus menghadapi perang non fisik. Neokolonialisme yang ditandai adanya imperialisme epistemologis telah mengancam sendi-sendi ajaran Islam. Polarisasi multidimensional umat Islam adalah salah satu akibat yang ditimbulkan dari proxy war ini. Kaum munafik berperan besar dalam melancarkan proyek Barat ini.

Epistemologi Islam yang dibangun diatas pilar akidah, kini tengah mendapatkan ancaman yang sangat serius. Penetrasi filsafat hermeneutika telah berhasil masuk ke jantung intelektualitas muslim. Berbagai istilah asing kini menjadi konsumsi kaum muslimin yang pada akhirnya menggerus tiang keimanan dan keislaman.

Perang istilah ini sengaja dihembuskan dengan target mencerabut kaum muslimin dari pemikiran Islam yang murni. Labelisasi Islam makin marak seiring arus liberalisasi di dunia Barat. Ironisnya, kaum intelektual muslim yang sejatinya merupakan penjaga orisinalitas pemikiran Islam, kini ikut masuk dalam situasi kerancuan epistemologis.

Namun perlu dicatat, secara historis, penyematan sifat stigmatis terhadap Islam terjadi sejak zaman Rasulullah. Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah selalu difitnah dan digelari dengan bermacam sebutan negatif. Rasulullah sebagai orang gila, dukun dan bahkan penyihir (lihat QS AsShafat : 36, Ad Dukhan : 14, Ad Dzariyat : 39, 52 dan Al Qamar : 29).

Sementara di zaman modern, labelisasi terhadap Islam makin subur dan beragam. Meski secara normatif, Islam adalah agama damai dan mendamaikan, namun kini di framing seolah agama intoleran penuh kekerasan. Meski ajaran Islam adalah ajaran penuh kasih sayang kepada seluruh manusia, namun kini Islam dicitrakan seolah sebagai agama barbar yang haus perang.

Tidak sampai disitu, kini berkembang istilah-istilah asing yang telah berhasil memecah belah umat Islam. Istilah asing itu diantaranya, Islam liberal, Islam radikal, Islam moderat, Islam fundamentalis dan Islam nusantara. Hal ini berbeda makna dengan Islam kaffah, rahmatan lil’alamin dan wasatiyah. Istilah-istilah pertama berakar dari epistemologi Barat, sementara istilah kedua berakar dari khasanah Al Qur’an.

Islam tidak mengenal istilah radikal, moderat maupun liberal. Islam ya Islam. Islam adalah agama sempurna yang datang dari Allah dan menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia, jika diterapkan secara kaffah akan memberikan rahmat bagi alam semesta dan jika ditinggalkan maka akan menjadikan dunia ini sempit penuh kerusakan. (lihat QS Al Baqarah : 208 dan QS Thahaa : 124).

Bahkan disaat Rasulullah mulai melakukan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar secara terbuka yang dengan tegas mengkritik sistem jahiliah dan menawarkan Islam, Rasulullah dituduh akan memecah belah bangsa Arab. Padahal pada faktanya, sejarah telah membuktikan bahwa Islam justru yang mampu menyatukan bangsa Arab setelah ratusan tahun terjadi perang antar suku dan kabilah.

Monsterisasi ajaran Islam melalui perang istilah (harb al Musthalahat) sebagai radikal, garis keras (hard line) dan membenturkan dengan Islam moderat dan liberal adalah upaya-upaya untuk memecah belah umat Islam sekaligus melumpuhkan kebangkitan pemikiran dan peradaban umat. Barat sangat takut akan kebangkitan umat Islam di seluruh dunia.

Salah satu cara yang digunakan oleh musuh-musuh Islam adalah menjadikan kaum munafik yang haus uang dan jabatan dipakai sebagai pasukan untuk ikut merobohkan sendi-sendi Islam. Kaum munafik mengamini seluruh proyek untuk merusak Islam, dengan imbalan seonggok duniawi. Kaum munafik memang lebih dekat dengan orang kafir demi mengisi perutnya yang lapar. Kaum munafik rela menjual agama kepada orang kafir demi mendapat dunia dunia.

Padahal Islam adalah memang agama dakwah amar ma’ruf nahi munkar kepada seluruh dunia untuk menebar kebaikan dengan cara damai dan rasional. Gerakan dakwah Islam adalah salah satu ciri kaum terbaik yang diberikan Allah. Islam adalah gerakan peradaban, bukan sekedar ritual belaka (QS Ali Imran : 110)

Sejarah Islam, sebagaimana yang pernah ada, merupakan sejarah dakwah dan seruan, sistem dan pemerintahan. Tidak asumsi lain yang dapat diklaim sebagai Islam, atau diklaim sebagai agama ini, kecuali jika ketaatan kepada Rasul direalisasikan dalam satu keadaan dan sistem (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz II hlm. 696)

Islam memang agama dakwah dan anti terhadap kedzaliman dan penjajahan, meski untuk itu justru dituduh sebagai radikal. Di zaman penjajahan belanda, para ulama pejuang kemerdekaan juga disebut sebagai kaum radikal. Istilah radikal dan moderat memang istilah yang dibuat oleh kaum penjajah untuk melumpuhkan kebangkitan Islam.

Para pejuang seperti Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Laksamana Malahayati, Cik Di Tiro, Panglima Polim, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nanrenceh, Sultan Hasanuddin, Ranggong Daeng Romo, Kyai Abdullah Sajjad, Sunan Cendana, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman oleh penjajah belanda dijuluki sebagai kaum radikal. Kata radikal disematkan kepada mereka, sebab mereka tidak mau tunduk kepada penjajah, demi mempertahankan martabat dan kemerdekaan negeri ini. Bagi penjajah, mereka radikal, bagi rakyat mereka adalah pahlawan.

Umat Islam harus menyadari bahwa propaganda dengan pola labelisasi Islam akan berdampak buruk terhadap Islam dan kaum muslimin pada umumnya. Sebab menyebut Islam garis keras sama dengan penyebutan para penjajah dahulu atas muslim yang tidak mau tunduk kepada penjajah.

Perang istilah menurut  Ahmad Ibrahim Khidr dalam makalahnya, “ Al Islam wa Harb al Musthalahat”, perang istilah dilakukan dengan dua cara. Pertama, taqbih al hasan, yaitu mencitraburukkan perkara yang baik di dalam Islam. Sebagai contoh, istilah jihad yang merupakan ajaran mulia dicitraburukkan sebagai tindakan terorisme.

Kedua, tahsin al qabih, yakni mencitrakan baik terhadap hal-hal buruk dalam Islam. Contoh kata riba yang dimurkai Allah dicitrakan sebagai fa’idah (manfaat) atau disebut dengan istilah bunga. Dengan istilah bunga, maka kaum muslimin tidak takut lagi bertransaksi ribawi. Bahkan ada kecenderungan tidak mau lepas dari riba, karena dianggap bermanfaat, indah, menguntungkan seperti bunga.

Maka, umat Islam harus mewaspadai perang istilah yang hingga zaman modern ini terus dilancarkan di tengah kehidupan kaum muslimin.  Dalam perang istilah ini, ajaran Islam akan makin terdistorsi. Targetnya adalah umat Islam akan kehilangan ilmu dan tsaqafahnya. Dan selamanya kaum munafik akan selalu ada, demi mengisi perutnya yang lapar, merekalah pengkhianat agama Allah sekaligus pelacur intelektual yang rela menjual Islam kepada kaum kafir.

Janganlah pernah berhenti memperjuangkan Islam, meskipun kaum kafir dan munafik akan terus menghadangnya dengan berbagai cara, dari yang paling halus hingga yang paling brutal. Teruslah melangkah maju sebagai pejuang Islam sampai mati, jangan pernah menjadi pecundang dan pengecut. Islam adalah kebenaran, kekafiran dan kemunafikan adalah kesesatan.

Imam Syafi’I berpesan, “ Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti.” []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Merawat Optimisme, Sebab Jalan Perjuangan Masih Panjang

Berjuang menegakkan agama Allah itu berat. Memilih menjadi pejuang Islam itu banyak ujian dan hambatannya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *