fbpx
Rabu , 21 Oktober 2020
Beranda / Artikel / Bisnis Pariwisata Tak Sekadar Laba

Bisnis Pariwisata Tak Sekadar Laba

Penulis: Susiyanti
(Pemerhati Sosial, Konawe Sulawesi Tenggara)

Hari libur merupakan suatu hal yang selalu dinanti. Tidak sedikit  masyarakat yang menghabiskannya dengan melakukan wisata. Baik itu untuk liburan ataupun hanya sekedar jalan-jalan dan lainnya.

Inilah yang membuat mengapa bisnis pariwisata itu sangat diminati masyarakat, baik itu di desa maupun di kota. Hingga negara pun meliriknya yang kemudian dijadikan sebagai salah satu penambah pendapatan. Hal ini juga ternyata dimanfaatkan oleh Gubernur Sultra dalam memperingati ulang tahun Sultra ke-55. Dimana dalam perayaan ulang tahun Sultra yang ke 55 dijadikan juga sebagai alat atau media untuk mempromosikan destinasi wisata. Sebagaimana yang di kemukakan oleh  Gubernur Sultra, H. Ali Mazi, SH. ketika membuka kegiatan pameran pembangunan Sultra. Tidak hanya itu, HUT Sultra bagi pariwisata diharapkan juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, ekonomi kreatif dan bisa menambah pengembangan nilai dalam menjalankan roda pariwisata, baik itu formal maupun non formal (Publiksatu.com, 25/04/2019).

Jika melihat sekilas, tentu bisnis pariwisata banyak memberikan peluang untuk menambah pundi-pundi rupiah. Namun, apakah ada dampak lain dari bisnis pariwisata itu sendiri? Ternyata jika ditelisik lebih dalam, bisnis pariwisata  mengandung sisi negatif pula dibalik indahnya bisnis tersebut. Sebagai contoh, jika para pelancong yang berkunjung adalah wisatawan mancanegara (wisman), sulit dipungkiri bila wisman tersebut akan membawa masuk budayanya ke dalam negeri. Terlebih budaya tersebut bertentangan dengan budaya orang timur. Misalnya cara berpakaian, gaya hidup dan sebagainya. Sehingga hal tersebut pun tak jarang ditiru oleh sebagian masyarakat atau pun wisatawan domestik.

Berbeda dengan mereka yang memang orientasinya hanya mengejar keuntungan semata, yakni para kapitalis, yang minim pertimbangan akan dampak buruk yang dihasilkan nantinya. Karena bagi mereka keuntungan menjadi hal yang utama dan bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Perkara apakah itu berdampak buruk nantinya, hal itu menjadi urusan belakang.

Lain halnya dengan bisnis pariwisata dalam kacamata Islam. Karena pariwisata dianggap sebagai suatu obyek wisata yang bisa digunakan untuk memperkuat keyakinan kita kepada Allah, Islam dan peradabannya. Sedangkan untuk non-Muslim, baik itu Kafir Mu’ahad maupun Kafir Musta’man  bisa digunakan sebagai sarana untuk menanamkan keyakinan mereka pada Kemahabesaran Allah.

Hal itu pun dapat dijadikan sebagai sarana dakwah dan di’ayah (propaganda). Baik itu di kalangan seluruh manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Hingga akan menghasilkan  ketundukan dan takjub ketika menyaksikan keindahan alam. Maka potensi yang diberikan oleh Allah ini bisa dimanfaatkan  untuk menanamkan keimanan pada zat yang menciptakannya, bagi yang belum beriman. Untuk yang sudah beriman, dimanfaatkan untuk mengokohkan keimanannya.

Selain itu juga dimanfaatkan sebagai sarana propaganda (di’ayah), karena dengan menyaksikan langsung peninggalan bersejarah dari peradaban Islam itu, siapapun yang sebelumnya tidak yakin akan keagungan dan kemuliaan Islam, umat dan peradabannya akhirnya bisa diyakinkan, dan menjadi yakin. Bahkan pariwisata juga bisa dijadikan sebagai salah satu sumber devisa, tetapi bukan berarti sebagai suatu dasar perekonomian dalam sistem Islam.

Adapun untuk obyek wisata peninggalan bersejarah dari peradaban lain, maka dalam institusi Islam bisa menempuh dua kebijakan: Pertama, bila obyek-obyek tersebut adalah tempat peribadatan kaum kafir, harus dilihat: Apabila digunakan sebagai tempat peribadatan, maka hal itu akan dibiarkan. Namun, tidak boleh dibongkar atau direnovasi, apabila mengalami kerusakan. Apabila, tidak digunakan lagi sebagai tempat peribadatan, maka akan ditutup, dan bisa dihancurkan.

Kedua, bila bukan tempat peribadatan, maka bukan menjadi alasan untuk dipertahankan. Karena hal itu akan ditutup, dan dihancurkan atau diubah. Sebab di dalamnya terdapat berbagai patung makhluk hidup.

Sebagaimana yang dilakukan Muhammad al-Fatih pada saat menaklukkan Konstantinopel, pada hari Jumat. Gereja Aya Shopia dirubah menjadi masjid. Seperti gambar-gambar dan ornamen khas Kristen dicat. Lalu dimanfaatkan untuk  salat Jumat oleh Muhammad al-Fatih dan pasukannya.

Dengan demikian dalam perspektif syariat, sesungguhnya bisnis pariwisata tak hanya mengedepankan keuntungan semata, tanpa memikirkan akibat apa yang akan ditimbulkannya. Tetapi lebih dari itu, yakni dapat dijadikan sebagai sarana dakwah dan semakin mengokohkan keimanan pada-Nya. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *