fbpx
Rabu , 15 Juli 2020
Beranda / Artikel / Membongkar Kejahatan Demokrasi: Dari Kecurangan Pemilu, Budaya  Korupsi hingga Neokolonialisme China
Ratusan orang yang menamakan dirinya Komando Barisan Rakyat Lawan Pemilu Curang menggeruduk gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI di bilangan Jl. Thamrin Jakarta Pusat, Rabu (24/4/2019). Para demonstran mendesak Bawaslu agar tidak diam menyaksikan kecurangan dalam penyelenggaraan Pemilu. (Sumber: detik.com)

Membongkar Kejahatan Demokrasi: Dari Kecurangan Pemilu, Budaya  Korupsi hingga Neokolonialisme China

Penulis: Dr. Ahmad Sastra
(Dosen Filsafat Universitas Ibnu Khaldun, Bogor)

Kejahatan pertama pemilu demokrasi adalah kecurangan yang luar biasa dan telah membunuh ratusan jiwa rakyat kecil. Demokrasi dan kecurangan adalah dua sisi mata uang. Pemilu 2019 diwarnai kecurangan yang begitu telanjang, bahkan disinyalir pemilu  2014 juga sarat dengan  kecurangan. Dengan dana 25 triliun, pemilu 2019 oleh banyak kalangan dianggap sebagai pemilu terburuk sepanjang sejarah negeri ini.

Ada beberapa kesalahan hasil temuan tim relawan IT BPN. Ditemukan ada 9.400 kesalahan input di aplikasi Situng KPU dalam 3 hari terakhir (27-29 April 2019). Sebanyak 172.174 TPS dari 404.290 TPS yang sudah masuk ke Situng (42%) ditemukan error sebanyak 6% yang konsisten 3 hari terakhir dan tidak ada perbaikan. Di Jawa Barat ditemukan kesalahan 764 TPS (8%), Jateng 706 TPS (7,4%) dan Jatim 385 (4%).

Ada tiga kesalahan menurut tim IT BPN. Pertama, kesalahan memasukkan data mengenai selisih suara antara Paslon 01 dan Paslon 02. Kedua, kesalahan memasukkan data tentang jumlah pemilih melebihi jumlah daftar pemilih tetap (DPT) dalam satu TPS. Ketiga, kesalahan memasukkan data yang tidak singkron antara perolehan suara sah dan total jumlah suara.

Pemilu serentak menelan korban jiwa terbanyak selama penyelenggaraan pemilu. Sebanyak 332 orang dinyatakan meninggal dunia, terutama petugas Kelompok Pemungutan Suara (KPPS). Petugas yang mengalami musibah sebanyak 667 orang. Sementara yang mengalami sakit lebih dari 1000 orang. Musibah pemilu ini terjadi di 25 provinsi. Pemilu 2019 telah membunuh rakyat kecil lebih banyak dibanding korban bom Bali. Sungguh jahat demokrasi, sistem buruk ini telah meminta tumbal rakyat jelata.

Kejahatan kedua demokrasi adalah budaya suap menyuap dan korupsi. Pemilu demokrasi selalu diwarnai dengan budaya suap menyuap dari calon anggota dewan kepada rakyat, berharap rakyat akan memilihnya. Namun sial, saat mereka tak terpilih, uang suap yang sudah diberikan sering ditagih kembali. Bahkan di beberapa daerah, bantuan berupa karpet, aspal dan beras diminta kembali.

Bukan hanya sampai disitu, setelah terpilih, maka demokrasi selalu diwarnai oleh kasus-kasus korupsi yang begitu menggurita. Entah sudah berapa banyak anggota dewan, menteri, gubernur hingga bupati yang telah masuk penjara karena kasus korupsi. Sistem padat modal demokrasi memang telah melahirkan kejahatan hukum berupa gratifikasi dan korupsi. Sebab  setelah terpilih, ia berharap bisa mengembalikan modal dengan cara-cara yang tidak beradab, korupsi salah satunya.

Kejahatan ketiga demokrasi adalah adanya pencitraan dengan tujuan menipu rakyat. Biasanya setiap calon akan bersandiwara agar dilihat oleh rakyat sebagai orang baik dan merakyat, padahal sebelumnya rakyat sudah tahu. Begitupun setelah terpilih, para penguasa selalu sibuk dengan pencitraan seolah membela rakyat, padahal mereka tidak lebih dari budak-budak kapitalis yang menyengsarakan rakyat.

Tak tanggung-tanggung, biasa penguasa berame-rame teriak saya pancasila, NKRI harga mati, namun faktanya mereka justru menjual negara ini kepada penjajah asing dan aseng. Lihatlah proyek OBOR China adalah bukti nyata bahwa negara ini kembali terjajah. Sebelumnya adalah dirampoknya emas freeport oleh asing, semnetara rakyat tak kebagian secuilpun. Kapitalisme telah menambah hutang luar negeri lebih dari 5000 triliun. Bagaimana hutang sebanyak itu bisa dibayar?

Sistem demokrasi kapitalisme sesungguhnya adalah penyebab utama kesengsaraan dan kemiskinan rakyat. Sebab harta hanya dikuasai oleh segelintir manusia, sementara ratusan juta rakyat berebut secuil sisanya. Akibatnya, rakyat banyak yang menderita kelaparan, menganggur, tak bisa sekolah, depresi sosial, tak mampu bayar pajak hingga bunuh diri karena tekanan ekonomi. Betapa jahatnya sistem demokrasi.

Peneliti Organisasi Non Pemerintah Auriga, Iqbal Damanik, memaparkan data laporan ketimpangan Indonesia berdasarkan data Oxfam pada Fubruari 2017. Data itu menyebutkan bahwa empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan melebihi dari 100 juta penduduk termiskin. Menurut Oxfam, Indonesia berada pada peringkat keenam dalam kategori ketimpangan distribusi kekayaan terburuk di dunia. Benar idiom yang menyebutkan bahwa yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Islam mengharamkan dan mengancam sistem kapitalisme yang menyebabkan kekayaan negara hanya beredar diantara orang-orang kaya saja. Allah berfirman, “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS Al Hasyr: 7)

Kejahatan berikutnya dari sistem demokrasi kapitalisme adalah adanya neokolonialisme dan neoimperialisme terhadap negeri ini. Dr. Sir Muhammad Iqbal mengatakan bahwa komunisme dan kapitalisme adalah dua ideologi yang penuh nafsu dan tidak punya tenggang rasa. Tuhan telah mati dalam kesadarannya. Manusia merupakan sasaran penipuan. Yang satu bangkit untuk dahaga revolusi, yang lain giat mengejar pajak. Di antara dua batu, manusia remuk binasa (Javid Nama, h. 52).

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Miguel D Lewis tentang kapitalisme: Capitalism is religion. Banks are churches. Bangkers are priests. Wealth is heaven. Poverty is hell. Rich people are sainst. Poor people are sinners. Commodities are blessings. Money is God. 

China adalah negara kapitalis berwajah komunis yang kini tengah melebarkan sayap neokolonialismenya di berbagai negara. Dengan skema pembangunan infrastruktur berbasis hutang, china bertujuan mencaplok negara-negara berkembang. Telah banyak negara korban China yang mengalami kebangkrutan dan terpaksa menyerahkan aset-asetnya ke China.

Melalui proyek OBOR (One Belt One Road) kini china tengah menghegemoni Indonesia. Geopolitik dan geoekonomi China berhasil menjerat negara-negara berkembang di bawah kendalinya. Indonesia pun akan bernasib demikian. Jika tidak dihentikan, maka proyek OBOR akan menjadikan negeri ini kembali terjajah oleh aseng, setelah sebelumnya dijajah oleh asing.  Berdasarkan reportase koran Bisnis Indonesia (27/4) telah diteken sebanyak 23 proyek OBOR hasil kerjasama dalam forum bisnis antara Indonesia China.

Kejahatan sistem demokrasi berikutnya adalah berbagai bentuk kedzaliman, persekusi dan kriminalisasi terhadap kaum muslimin. Demokrasi dalam slogan pemilunya selalu mengajak kaum muslimin untuk ikut berpartisipasi dalam mensukseskan hajatan lima tahunan ini. Namun di sisi lain, umat Islam justru dituduh dengan berbagai tuduhan keji, mulai dari garis keras, radikal, teroris hingga disebut sebagai kaum intoleran pemecah belah bangsa.

Dengan berbagai slogan demokrasi dan tuduhan kepada umat Islam, maka yang terjadi adalah polarisasi yang menajam di kalangan kaum muslimin sendiri. Pemilu demokrasi selalu menyisakan pertengkaran dan kegaduhan sesama muslim, hanya karena beda pilihan politik. Allah sendiri melarang kaum muslimin untuk berpecah belah. Maka demokrasi yang bisa memecah belah umat, selain kejahatan adalah sebuah sistem yang haram untuk diadopsi.

Allah dengan tegas berfirman dalam Al Qur’an: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran [3]: 85). “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…”. (QS. Ali Imran [3]: 19)

Kejahatan demokrasi berikutnya adalah adanya pengakuan terhadap kebhinekaan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama atas nama HAM dan kebebasan. Sifat liberalisme demokrasi sesungguhnya telah memporak-porandakan kehidupan manusia. Dalam demokrasi yang namanya riba, zina, hingga LGBT tidak dilarang, sementara ketiganya sangat bertentangan dengan nilai Islam. Demokrasi adalah sistem nilai yang melahirkan peradaban amoral suatu bangsa.

Di koran Republika (12/2/2016) hlm. 9 pada judul “Dubes AS Dukung LGBT” terdapat berita: “Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia menegaskan dukungannya terhadap pernikahan sejenis di kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake bahkan mendesak Pemerintah Indonesia mengambil sikap serupa.”

Aqidah Islam sebenarnya telah dengan tegas memisahkan antara perilaku dan realitas yang didasarkan oleh keimanan dan kekufuran. Keduanya adalah dua hal yang berbeda, yang pertama bisa bisa mengantarkan kepada surga dan yang lainnya bisa mengantarkan kepada neraka. Islam memandang yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, diantara keduanya adalah subhat.

Kejahatan sistem demokrasi berikutnya adalah menyamaratakan kualitas manusia berdasarkan HAM semata.  Pemilu demokrasi hanya membutuhkan kemenangan dengan suara terbanyak, bukan karena kualitas. Maka jangan heran jika orang gilapun diminta untuk ikut mencoblos. Ya begitulah democrazy. Dalam pemilu demokrasi menggunakan prinsip satu orang satu suara, sehingga menyamakan suara profesor atau ulama dengan suara copet atau pelacur.

Sokrates mengkritik dengan mengatakan bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang anarkis, memberikan kesetaraan yang sembrono kepada siapapun, baik setara maupun tidak setara. Demokrasi memberikan ruang kebebasan tanpa batas. Anarkisme demokrasi  akan berujung kepada kekuasaan tirani.

Diperkuat oleh pandangan Aristoteles, bahwa demokrasi adalah bentuk negara yang buruk (bad state). Pemerintah yang dilakukan oleh sekelompok minoritas di dewan perwakilan yang mewakili kelompok mayoritas  penduduk itu akan mudah menjadi pemerintahan anarkis, menjadi ajang pertempuran konflik kepentingan berbagai kelompok sosial dan pertarungan elit kekuasaan.

Dalam pandangan Islam, prinsip-prinsip demokrasi menyalahi syariah Islam. Pertama, Suara mayoritas mengalahkan suara Tuhan, melanggar QS Al An’am: 116. Kedua, kedaulatan hukum di tangan rakyat, melanggar QS Al An’am: 57. Ketiga, produk perundang-undangan ditentukan di parlemen, meski esensinya bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, melanggar QS Al Maidah: 48. Keempat,  demokrasi mencampakkan hukum Allah dalam urusan rakyat, melanggar QS Al Maidah: 50.

Maka cara satu-satunya membongkar berbagai kejahatan demokrasi yang busuk ini adalah dengan menyadarkan terus rakyat Indonesia agar membuang demokrasi ke tong sampah peradaban dan memperjuangkan tegaknya ideologi Islam dalam naungan daulah Islam. Sebab hanya ideologi Islam yang akan sanggup melawan penjajahan ideologi kapitalisme demokrasi dan komunisme atheis. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Kandidat Beri, Timses Fasilitasi, Pemilih Menikmati

Tau sama tau, sudah menjadi rahasia umum politik uang dalam pemilu. Jargon keramat demokrasi dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *