fbpx
Rabu , 15 Juli 2020
Beranda / Artikel / Antara Kebhinekaan dan Multikulturalisme, Adakah Relasinya dengan Surga dan Neraka ?  

Antara Kebhinekaan dan Multikulturalisme, Adakah Relasinya dengan Surga dan Neraka ?  

Penulis: Dr. Ahmad Sastra
(Dosen Filsafat Universitas Ibnu Khaldun, Bogor)

Muncul di media sosial seorang anak belasan tahun membelakangi kamera seraya memperlihatkan kaos biru yang dipakainya, bertuliskan: “kalo surga milik kaummu, biarkan kami di neraka dengan kebhinekaan”. Terlepas dari hanya sebuah tulisan, remaja itu mencoba menghubungkan istilah kebhinekaan dengan surga dan neraka. Benarkah demikiran?

Mungkin remaja itu hanya emosional belaka, tidak memahami tulisan di kaosnya dalam sudut pandang intelektual atau spiritual. Mungkin remaja itu baru minum racun pemikiran liberal, sehingga tak sadar diri yang berujung pada ucapan ngawur. Remaja itu tidak bisa membedakan antara pluralitas dan pluralisme, antara multikultural dan multikulturalisme. Remaja itu mungkin belum belajar tentang modernisme, neomodernisme dan postmodernisme.

Istilah pluralitas atau multikultural memiliki kandungan sifat keragaman yang didasarkan oleh realitas sosiologis. Keragaman sosiologis adalah sebuah keniscayaan seperti perbedaan warna kulit, suku bangsa, bahasa, jenis kelamin dan agama. Sementara akhiran isme dalam istilah pluralisme atau multikulturalisme adalah suatu aliran postmodernisme yang berdimensi teologis dan ideologis yang diharamkan oleh Islam.

Pluralisme dengan multikulturalisme adalah setali mata uang, keduanya sama-sama aliran pemikiran Barat yang diharamkan Islam. Isme-isme lain yang diharamkan oleh Islam adalah komunisme, kapitalisme, feminisme, ateisme, nasionalisme, permisivisme, liberalisme, sekulerisme, kolonialisme, imperialisme, hedonisme, sinkretisme, dan yang sejenisnya. Isme-isme yang bermakna aliran ideologis dan teologis menyalahi ajaran Islam.

MUI sendiri pada tahun 2005 telah mengeluarkan fatwa haram atas paham sekulerisme, liberalisme dan pluralisme agama. Fatwa ini ditetapkan di Jakarta, 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M, sebagai hasil Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa, Sekretaris Drs. Hasanuddin, M.Ag dan ketua K.H. Ma’ruf Amin.

MUI mengambil dalil dari Al Qur’an untuk menjadi pijakan fatwa keharaman sekulerisme, pluralisme dan liberalisme agama. Bagaimana mungkin MUI mengharamkan golput disisi lain, sementara hasil pemilu demokrasi justru sekulerisme, liberalisme dan pluralisme yang telah diharamkan juga. Ada banyak ayat Al Qur’an yang dijadikan pijakan fatwa paham sepilis ini, diantaranya adalah :

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85). “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…”. (QS. Ali Imran: 19)

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. al-Kafirun: 6). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.(QS. al-Ahzab: 36).

Dalam fatwa MUI 2005 yang dimaksud pluralisme agama adalah suatu paham yang meng-ajarkan bahwa semua agama adalah sama dan  karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama  juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan  masuk dan hidup berdampingan di surga.

Liberalisme agama adalah memahami nash-nash  agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata. Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

MUI dalam fatwanya lantas menegaskan bahwa Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.

Jika  pluralitas adalah merepresentasikan adanya kemajemukan, maka multikultural adalah penegasan bahwa dengan semua perbedaan itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Perlu kita pahami bahwa multikulturalisme bukanlah hanya sebagai wacana, tetapi merupakan sebuah ideologi, yaitu ideologi yang dikembangkan melalui bangunan perbedaan yang ada. Perbedaan tersebut diramu sehingga menghasilkan teori bahwa tidak ada klaim kebenaran (truth claim) dan superior di antara golongan.

Karena menurut paham ini kebenaran itu relatif dan manusia tidak dapat meraih kebenaran yang absolut. Sedangkan menurut Islam kebenaran absolut dapat diraih manusia melalui wahyu, akal, dan panca indera. Selain itu Allah juga mengutus Rasulullah Saw untuk menunjukkan kebenaran tersebut, sehingga keragu-raguan terhadap kebenaran Islam dapat dihilangkan.

Menurut sejarahnya multikulturalisme lahir di Amerika sebagai perwujudan dari posmodernisme. Multikulturalisme adalah varian teori perbedaan (West,1998;Collins; Lemert,1993) yang mengambil ide dari gagasan posmodernisme bahwa perbedaan manusia secara analitis lebih penting ketimbang kesamaan mereka (Spivak, 1988;, Butler, 1990).

Oleh karena itu, kenyataan yang sangat relevan bagi postmodernisme adalah multikulturalisme. Begitupun kewajiban yang sangat relevan bagi postmodernisme adalah kewajiban untuk menghormati hak-hak untuk berbeda secara budaya (the right of cultural diversity). Lebih lagi, postmodernisme yang sangat menggarisbawahi sekat-sekat yang ditimbulkan oleh incommensurability pun sama sekali tidak menganjurkan “benturan peradaban” (Huntington/Ruslani, 2000: 597). Sebaliknya yang dianjurkan ialah “toleransi” dalam bentuk norma “non-cruelty” antar manusia dan dengan demikian juga antar kebudayaan dan peradaban (Rorty, 1989: 189-198).

Multikulturalisme menganggap bahwa semua budaya dan agama adalah sama, tidak ada yang lebih baik atau lebih benar dari yang lain. Kita pun diminta terbang ke atas dititik netral agama, sehingga kita bisa melihat dengan jelas masing-masing agama dengan melepaskan ikatan kita terhadap suatu agama tertentu dan melihatnya secara universal. Kemudian kita bisa mengambil apa-apa yang kita rasa sesuai dari setiap agama. Jika kita berfikir seperti itu, kita akan ragu dan cenderung skeptis terhadap ajaran Islam yang selama ini kita anut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paham ini bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam.

Pendukung multikulturalisme juga beranggapan bahwa menikah berbeda agama adalah sah. Ini dibuktikan dengan dibolehkannya kawin campur antara laki-laki muslim dengan wanita non-muslim, begitu juga sebaliknya. Padahal Islam melarang pernikahan beda agama. Begitu juga Islam memandang ada perbuatan baik dan buruk, dosa dan pahala, amal sholeh dan maksiat. Jika perbuatan baik dan buruk dianggap sama dan sederajat, maka buat apa kita berbuat baik?

Saat ini, multikulturalisme menjadi salah satu isu yang ingin dimasukkan dalam dunia pendidikan. Sebab, multikulturalisme dianggap perlu untuk dikembangkan. Karena Indonesia memiliki kekayaan kultur, tradisi, dan lingkungan geografis serta demografis yang beragam. Mengingat pendidikan menempati posisi yang sangat vital. Maka diharapkan paham seperti ini dapat dicegah, sehingga tidak akan menciptakan generasi yang membingungkan dan ragu-ragu terhadap agama Islam itu sendiri. Inilah bahaya paham multikulturalisme, dan paham ini sebenarnya adalah kepanjangan dari ide pluralisme yang pada saat sekarang ini banyak ditentang oleh masyarakat. Propaganda agar masyarakat menerima LGBT sebagai realitas sosial adalah salah satu ajaran multikulturalisme. Bahkan di Amerika, LGBT adalah legal dan dilindungi oleh undang-undang negara.

Di koran Republika (12/2/2016) hlm. 9 pada judul “Dubes AS Dukung LGBT” terdapat berita : “Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia menegaskan dukungannya terhadap pernikahan sejenis di kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake bahkan mendesak Pemerintah Indonesia mengambil sikap serupa.”

Aqidah Islam sebenarnya telah dengan tegas memisahkan antara perilaku dan realitas yang didasarkan oleh keimanan dan kekufuran. Keduanya adalah dua hal yang berbeda, yang pertama bisa bisa mengantarkan kepada surga dan yang lainnya bisa mengantarkan kepada neraka. Islam memandang yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, diantara keduanya adalah syubhat.

Kebhinekaan adalah keniscayaan sosial, sementara menyamakan seluruh keragaman sebagai satu kebenaran adalah kemungkaran. Islam menghargai perbedaan agama, tapi tidak mengakui kebenarannya. Sebab hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Adapun pluralisme dan multikulturalisme adalah ajaran yang menyalahi Islam yang artinya adalah sebuah kemungkaran.

Sementara masalah surga dan neraka, maka sebagaimana janji Allah, siapa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka surgalah tempat akhirnya nanti. Sementara manusia yang kafir, zolim, fasik, musyrik adalah neraka tempatnya. Keduanya tidak ada hubungannya dengan kebhinekaan. Perbedaan suku, bahasa, warna kulit, dan jenis kelamin asalkan beriman dan bertaqwa, maka akan mendapat surga. Sementara jika kafir, meski sama warna kulit, suku bangsa dan bahasa, maka tetap akan masuk neraka.

Jadi secara esensi, redaksi yang tertulis di kaos itu adalah kesalahan berganda. Seandainya remaja itu rela masuk neraka hanya karena gagal paham semoga segera menyadarinya. Jika perkatannya itu adalah sengaja karena mabok pemikiran liberal, maka remaja itu perlu diselamatkan agar bertobat. Sebab tanpa sadar, dia sedang terjerumus kepada kekafiran epistemologi, lebih bahaya lagi jika sampai kafir teologi (murtad). []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Salah Kaprah Toleransi

Narasi toleransi dan radikalisme adalah wacana Barat untuk mendekonstruksi Islam dan menjebak kaum muslimin. Menjelang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *