fbpx
Kamis , 22 April 2021
Beranda / Artikel / Masa Tenang, Masa Menentukan Pilihan

Masa Tenang, Masa Menentukan Pilihan

Penulis: Arum Mujahidah
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Tiga hari masa tenang menjelang pemilu 2019 merupakan momen yang tepat untuk digunakan masyarakat Indonesia untuk berpikir jernih dan rasional. Karena, pilihan mereka akan menentukan bagaimana masa depan bangsa Indonesia ke depannya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat untuk memanjatkan doa pada masa tenang Pemilu 2019 agar pesta demokrasi tersebut berjalan aman dan damai.  MUI juga berharap agar masyarakat menjadikan masa tenang sebagai media untuk melakukan kontemplasi, muhasabah, berdoa, dan bermunajat kepada Allah SWT. Hasilnya, diharapkan terpilih pemimpin yang amanah. (detikNews.com)

Namun, ternyata apa yang dihimbaukan MUI tidak sepenuhnya didengar oleh sebagian telinga bangsa ini. Apa memang sudah terlalu tersumbat dengan jejalan kekuasaan dan uang? Sehingga, dalam masa tenang pun masih saja banyak oknum yang tertangkap OTT. Seperti diberitakan di beberapa daerah, beberapa caleg terungkap telah bermain money politic sehingga mereka harus mendekam di jeruji sebelum sempat duduk di kursi impian.

Padahal, apa yang diserukan oleh MUI merupakan hal yang memang patut dilakukan. Di mana masa-masa tenang menjelang pemilu ini memang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Akan tetapi, dalam berkontemplasi, ber-muhasabah serta berdoa itu pun perlu penjelasan rinci. Agar sebelum gebyar pemilu benar-benar dilaksanakan, masyarakat sudah kembali  akal sehatnya sehingga benar-benar mampu menentukan pilihan yang tepat.

Pertama, masa tenang digunakan untuk kontemplasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontemplasi memiliki arti renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Ya, di fase ini rakyat harus banyak merenung, khususnya merenung apa yang sudah terjadi selama kurang lebih 4 tahun belakangan dalam kepemimpinan rezim ini. Semakin sejahtera kah? Semakin makmur kah? Atau justru sebaliknya.

Kedua, masa tenang digunakan untuk muhasabah. Dalam konteks ini, tepat kiranya seluruh rakyat Indonesia berfikir flash back ke belakang. Apa saja yang telah ia  lihat dari kedua Paslon baik 01 ataupun 02. Fakta-fakta apa saja yang telah terungkap di antara keduanya. Fakta ini bukan hanya sekedar retorika tapi lebih kepada aksi nyata baik secara langsung dari Paslon maupun orang-orang yang menjadi tim suksesnya. Seperti beberapa kasus terungkapnya kecurangan dari salah satu kubu juga harus masuk dalam materi muhasabah ini. Sehingga, muhasabah tidak hanya sekedar merenungi bagaimana caranya agar Paslon yang digadang-gadang akan menang. Akan tetapi harus benar-benar bersikap objektif. Sehingga penarikan keputusan bisa jatuh pada pilihan yang sesuai.

Ketiga, masa tenang digunakan untuk bermunajat dan berdoa. Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar muslim di dunia memang seharusnya menjadikan doa ini sebagai senjata terakhir mereka. Doa sangat penting untuk dipanjatkan setelah semua usaha telah dikerahkan. Karena, sejatinya manusia hanya punya ikhtiar untuk berusaha selebihnya Allah lah yang menentukan hasil. Tentu, dalam doa harus benar-benar ikhlas untuk meminta pemimpin amanah, pemimpin yang cinta Allah dan Rasul-Nya. Bahkan bukan hanya sekedar  berharap ganti pemimpin tapi juga diikuti oleh birokrasi dan aturannya. Agar bangsa ini sejahtera ke depannya. Doa ini harus benar-benar dipanjatkan secara ikhlas, lillah karena Allah tanpa campur hawa nafsu dunia dan kekuasaan.

Dalam hal ini, teladan dan suara dari para ulama juga harus diperhitungkan pasalnya ulama adalah representasi dari umat. Dengan ilmunya, mereka bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang secara umum. Ulama yang penulis maksudkan adalah ulama yang memang benar-benar Hanif. Ulama yang bersih hatinya dari cinta dunia dan hanya mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan Islam.

Keempat, berharap pesta demokrasi berjalan lancar tidaklah menjamin masa depan ini menjadi lebih baik. Buktinya, pesta demokrasi berulang kali dilakukan nyatanya tak kunjung memberikan hasil kepemimpinan yang diharapkan. Karena masalahnya bukan pada berjalannya pemilu, tapi iklim demokrasi bangsa ini yang terlanjur berjalan di atas manipulasi dan kecurangan. Banyak dari aparat negara yang tidak netral, melakukan intimidasi pilihan bahkan tak segan membagi-bagikan lembaran demi kemenangan. Sehingga, pengawasan yang ketat dari semua pihak terkait jalannya pemilu ini harus benar-benar dilakukan sampai akhirnya.

Oleh karena itu, jika kontemplasi, doa dan muhasabah menjelang pemilu dilakukan dengan penuh keikhlasan terlebih bersandar pada hukum aturan-Nya. Maka, jelas tidak mungkin tidak Indonesia akan berwajah baru di tanggal 18 April mendatang. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

People Power dan Perubahan Masyarakat

Tanggal 21-22 Mei 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia melakukan aksi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *