fbpx
Rabu , 21 Oktober 2020
Beranda / Artikel / Kasus Kriminalitas Makin Mengganas, Mengapa Begitu?

Kasus Kriminalitas Makin Mengganas, Mengapa Begitu?

Penulis: Susiyanti
(Pemerhati Sosial, Konawe Sulawesi Tenggara)

Kriminalitas yang terjadi di tengah masyarakat kian hari memprihatinkan saja dan semakin beragam motifnya. Bak jamur yang tumbuh di musim penghujan. Dapat dikatakan bahwa tiada hari tanpa terjadi kejahatan, baik pembunuhan, perampokan, pencurian, aborsi, narkoba, miras dan lain-lain.

Tercatat, sepanjang tahun 2018, jumlah kasus kriminal (crime total) mencapai angka 32.301 kasus. Tidak hanya itu, menurut Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Wahyu Hadiningrat menambahkan, pada tahun 2018 sebanyak 5.659 kasus narkoba. Kasus kejahatan jalanan,  sebanyak 3.138 kasus selama tahun 2018. Sedangkan untuk kasus pembunuhan, sepanjang tahun 2018 tercatat terdapat 50 kasus pembunuhan (Wartakotalive.com, 28/12/2018).

Sebagaimana kasus yang  belum lama ini kembali menghebohkan masyarakat.  Akibat penemuan mayat di dalam koper. Berdasarkan ungkapkan  Kepala Desa Karanggondang, Edy Sucipto bahwa Penemuan mayat tanpa kepala di dalam koper tepatnya di pinggir sungai bawah jembatan di Udunawu, Blitar, Jawa Timur. Diketahui nama korban yang ditemukan tanpa kepala di dalam koper adalah Budi Hartanto (28), yang merupakan seorang guru honorer (Tribunnews.com, 04/04/2019). Lantas apa yang menjadi penyebabnya,  sehingga terus bertambah kasus kriminalitas dan bagaimana cara mengatasinya?

Menyelisik Persoalan

Setiap kejadian pasti memiliki akar masalah, mengapa hal itu tejadi? Demikian juga dengan kasus yang terjadi di atas. Beragamnya kasus kriminalitas yang terjadi di masyarakat sangat berkaitan erat dengan aturan yang berlaku. Begitu juga dengan tata kehidupan masyarakat yang kian sekuler. Bahkan, tidak banyak mengikutsertakan norma agama dalam mengatur masalah kehidupan. Sehingga segala aktivitas yang dilakukan, jauh dari batasan-batasan yang sesuai dengan aturan pembuat hukum dalam hal ini pencipta. Inilah yang menjadikan manusia semakin bebas dalam membuat aturan, karena minim dari nilai-nilai agama.

Hal itu pun mengakibatkan kebablasan dalam menjunjung tinggi nilai kebebasan individu. Sehingga maraknya pergaulan tidak sehat yang memicu lahirnya tindak kriminalitas. Inilah sebuah rantai yang dapat  menarik pemuda dari pergaulan bebas dalam hubungan tanpa status (pacaran), pembunuhan, mengkonsumsi narkoba, miras, pornografi dan lain-lain.

Selain itu, kriminalitas juga bisa lahir dari kebiasaan mengkonsumsi narkoba dan miras. Tidak hanya itu, adanya masalah pribadi seseorang mengakibatkan pada frustasi. Hingga tak sedikit mencari ketenangan dengan solusi yang pragmatis, yakni menggunakan barang haram/narkoba, dampaknya jelas akan merusak fisik dan pemikiran.  Kalau sudah seperti itu, kontrol diri semakin tak terkendali. Akibatnya berbagai tindakan dapat timbul dari hal itu, seperti terjadinya pemerkosaan, pembunuhan dan lain-lain. Bahkan, lebih parahnya akses pornografi tidak sulit diperolah. Inilah juga yang menjadi salah satu penyebab utama kejahatan seks di tengah masyarakat.

Negara sebagai perisai dan pengatur mestinya bertindak dengan tegas dalam hal preventif, kuratif, dan rehabilitatif masyarakat. Namun, sayang beribu sayang negara hanya bertindak sementara dan tidak memberantas sampai keakar-akarnya. Inilah buah dari penerapan aturan  yang berbasis sekularisme. Tidak hanya itu, dengan diterapkannya sistem kapitalisme menghasilkan hukum-hukum yang tak bisa memberikan efek jera pada pelaku kriminalitas sehingga tindak kejahatan terus berjamur tiap harinya dan berulang terus-menerus. Jika seperti itu, kidupan masyarakat akan sulit merasa aman, karena tindak kejahatn terjadi di mana-mana, tak terkecuali berasal dari orang-orang terdekat.

Problem Solving

Dalam Islam upaya pencegahan kriminalitas dapat dilakukan dengan upaya preventif dan kuratif. Sebab apabila tidak adanya pencegahan, upaya kuratif tidak akan efektif. Maka untuk itu sistem Islam memiliki empat solusi yaitu: Pertama, ketakwaan individu. Menanamkan kepada  setiap individu untuk bertakwa kepada Allah SWT. Adanya keimanan dan ketakwaan kepada Allah, maka seseorang tidak akan mudah terwarnai dan terpengaruh untuk melakukan tindakan yang bertengtangan denga norma-norma agama.

Karena sesungguhnya seorang muslim yang bertakwa akan senantiasa mendekatkan diri terhadap perintahn-Nya dan akan berusaha tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Ketakwaan tersebut akan menghantarkan seseorang pada keterikatan terhadap hukum syara dan akan merasa senantiasa diawasi oleh-Nya. Sehingga berusaha untuk menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya.

Kedua, kontrol masyarakat. Salah satu wujud dari adanya hal itu, yakni adanya budaya saling menasehati di tengah masyarakat. Dengan adanya hal itu, jika terjadi suatu perbuatan maksiat hal tersebut dapat dicegah dan dapat diminimalisir karena ada kepedulian dan pemahaman akan wajibnya amar makruf nahi mungkar.

Ketiga, peran negara. Peran tersebut diantaranya negara akan memfilter segala konten media yang disiarkan, dengan tujuan untuk kontrol agar konten tersebut tidak melanggar norma-norma agama. Tidak hanya itu, negara juga akan menutup pabrik-pabrik yang membuat minuman beralkohol. Serta hal-hal yang dapat menyebabkan rusaknya akal dan mendorong orang untuk melakukan perbuatan maksiat.

Keempat, sanksi yang menimbulkan efek jera. Islam mengancam dan memberikan sanksi yang keras bagi setiap pelaku kejahatan. Seperti pelaku pembunuhan, maka sanksi atas tindakan tersebut, yakni wajib diqishas dalam bentuk hukuman badan atau harta kekayaan.

Ali bin Abi Thalib juga menuturkan, “Rasulullah saw. mencambuk (orang minum khamr) empat puluh kali, Abu Bakar mencambuk empat puluh kali, Umar mencambuk delapan puluh kali. Masing-masing adalah sunnah. Dan ini adalah yang lebih aku sukai.” (HR Muslim).

Dengan demikian, semua hal itu sulit terealisasi dalam iklim saat ini, karena tidak adanya sinergi antara ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan peran negara. Semua ini hanya dapat terlaksana apabila diterapkannya hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Hal tersebut pun akan mampu meminimalisir dan menyelesaikan berbagai macam tindak kriminal, sehingga   mampu menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Perzinahan Merebak, Ini Solusinya

Perzinahan kian merebak! Kali ini viral kasus prostitusi online yang melibatkan salah satu artis Ibu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *