fbpx
Sabtu , 15 Agustus 2020
Beranda / Artikel / Infrastruktur Bukan Untuk Umat

Infrastruktur Bukan Untuk Umat

Penulis: Lulu Nugroho
(Muslimah Revowriter Cirebon)

Pembangunan infrastruktur terlihat menggairahkan beberapa waktu belakangan ini. Tidak hanya jalan tol, tapi juga jembatan, bandar udara, kereta api, pelabuhan, bendungan, termasuk jaringan telekomunikasi. Hal ini seharusnya menggembirakan umat. Sebab pembangunan infrastruktur diharapkan mampu menjadi solusi bagi persoalan umat.

Akan tetapi yang terjadi, alih-alih memudahkan, justru ternyata infrastruktur yang baru tidak menjadi angin segar. Tingginya tarif untuk mengakses hal tersebut, disinyalir sebagai biang keladi. Alhasil beberapa pembangunan infrastruktur yang direncanakan untung besar, malah sepi peminat. Umat enggan menggunakannya jika harus membayar dengan biaya tinggi.

Sebut saja tol Jombang-Mojokerto (Jomo). Setelah setahun dibuka, masih sepi peminat. Hingga kini jumlah pengguna tol yang tersambung dengan tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) itu masih mencapai angka 14.000 kendaraan per hari. Padahal targetnya 27.000 per hari.

Sekalipun sudah diiming-imingi dengan undian berhadiah sebagai bentuk stimulus untuk mendorong pengendara melintas di sana, tetap saja sepi. Program Terima Kasih Pelanggan, yaitu memberikan undian bagi pengguna tol yang saat ini sedang berjalan,” kata Manajemen Pendapatan Tol (MPT) Jomo, Rifan Tsamany (economy.okezone.com 6/12/2018).

Begitu juga tol Cipali, tak mau ketinggalan, sepi. Ketika cawapres Sandiaga Uno berkunjung ke rest area Km 166 Tol Cipali mendapatkan keluhan dari para pemilik warung di rest area. Sepinya tol Cipali berimbas pada pengusaha UMKM yang berada di rest area (detiknews.com 10/2/2019).

Tak hanya itu, Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) di Palembang yang merupakan moda transportasi massal modern pertama di Indonesia, sama, saat ini sepi penumpang (sindonews.com28/1).

Sungguh pembangunan yang sia-sia, tidak diminati umat. Sebab berbayar, dan mahal. Hanya yang memiliki uang lebih, bisa menggunakannya. Tidak untuk umat dengan ekonomi lemah. Inilah yang terjadi akibat ri’ayah penguasa menggunakan ideologi yang salah. Kapitalisme tidak berorientasi pada umat. Hak-hak umat kalah dibanding hak para kapital.

Vice President Corporate Finance PT Jasa Marga Tbk, Eka Setya Adrianto mengatakan, tarif yang saat ini berlaku sudah merupakan kesepakatan sejak awal. “Waktu kita hitung tarif sudah berdasarkan tender,” kata Eka saat ditemui di Menara BCA, Jakarta, Kamis (7/2/2019). Dia menyebutkan, memasuki jalan tol merupakan pilihan sehingga jika tarifnya dirasa terlalu mahal bisa mengambil pilihan untuk melalui jalan arteri atau non tol. (m.liputan6.com 7/2).

Akhirnya solusi dikembalikan pada masyarakat sendiri. Jika tarif tol mahal, berarti pilihannya adalah jangan menggunakan tol. Maka jelas tampak warna penguasa saat ini. Kapitalisme yang diemban menunjukkan jati dirinya. Untung rugi adalah landasan yang digunakan ketika penguasa mengurusi masyarakat. Penguasa bertindak sebagai penjual, masyarakat sebagai pembeli.

Infrastruktur Dalam Islam

Berbeda dengan Islam, hak umat dijamin oleh penguasa. Kehidupan seluruhnya berada dalam bingkai syariah. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, pembangunan irigasi, jalan, masjid perbaikan sungai. Bahkan khalifah Umar menyediakan unta untuk memudahkan aktivitas perdagangan pada waktu itu. Infrastruktur dibangun untuk memudahkan kehidupan umat.

Sinan, arsitektur khalifah, hidup pada masa Sultan Sulaiman I, Salim II dan Murad III,  membangun sejumlah infrastruktur bagi umat. Di antaranya jembatan Mehmed Pasa Sokolovic di atas sungai Visegrad di Bosnia Herzegovina yang sekarang masuk daftar warisan dunia UNESCO (United Nation of Educational Scientic and Cultural Organization).

Pembangunan juga terjadi besar-besaran bagi kemaslahatan umat. Tidak hanya membangun masjid, juga benteng dan jembatan. Sedang masa khalifah Sulaiman Al Qanuni membangun masjid khilafah. Mesjid ini dikelilingi empat sekolah tinggi, dapur umum, rumah sakit, rumah singgah, pemandian, rest area untuk musafir.

Saat wafat di usianya yang hampir 100 tahun, Sinan membangun 94 masjid besar, 52 masjid kecil, 57 sekolah tinggi, 48 pemandian umum (hamam), 20 rest area, 17 dapur umum (imaret), 8 jembatan besar, 8 gudang logistik (granisaries), 7 sekolah Qur’an, 6 saluran air (aquaduct) dan 3 rumah sakit.

Dalam Islam, penguasa tidak berjual beli dengan umat. Pengurusan umat, semata-mata terjadi karena ingin menegakkan Islam dilandasi takwa pada Allah. Sebab penguasa adalah junnah dan raa’in bagi umat, perisai dan pengurus. Penguasa seperti inilah yang sungguh-sungguh mampu mengantarkan umat pada kesejahteraan yang hakiki. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Bagaimana Pembangunan Infrastruktur dalam Perspektif Islam?

Dalam masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu program yang gencar dilaksanakan. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *