fbpx
Sabtu , 15 Agustus 2020
Beranda / Artikel / LGBT Merajalela, Generasi Dalam Bahaya

LGBT Merajalela, Generasi Dalam Bahaya

Penulis: Anis Zakiyatul M.
(Aliansi Penulis Rindu Islam)

Tak bisa dipungkiri di era digital seperti saat ini, generasi milenial memang diberi kemudahan dalam mengakses segala informasi yang mereka inginkan. Karena kemudahan akses itulah maka tak jarang mereka mendapatkan informasi yang salah sehingga menyebabkan pola pikir dan pola sikap mereka juga menjadi salah kaprah.

Misalnya saja dalam kasus Lesbian, Gay, Biseksual dan Trasnsgender (LGBT). Banyak grup facebook tentang LGBT, anggotanya pun tidak main-main hingga mencapai ribuan. Beberapa waktu yang lalu Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika telah memblokir grup facebook LGBT yang “beroperasi” di Garut yang disinyalir angggotanya mencapai 2600 pelajar SMP dan SMA. Hal ini membuat Pemkab Garut dan KPAI menuntut Kemenkominfo untuk memblokir grup LGBT tersebut.

Selain di facebook, LGBT juga merajalela di instagram. Kasus terbaru adalah munculnya akun instagram @alpantuni dengan deskripsi ‘Gay Muslim Comics’. Akun tersebut sudah memiliki 3.000 lebih followers. Gambar profilnya adalah pria muda berkulit cokelat memakai kopiah. Gambar itu juga menjadi tokoh dalam setiap komik yang di posting.

Hal ini membuat geram netizen indonesia. Banyak netizen yang mengutuk postingan-postingan akun @alpantuni. Sebagian netizen pengunjung akun itu me-mention akun Kementerian Kominfo, Humas Polri dan Kementerian Agama. Ada juga yang membuat petisi agar akun instagram itu dihapus dan pelakunya ditangkap. Hingga saat ini petisi tersebut telah ditanda tangani oleh 3.713 orang.

Dengan pemblokiran yang dilakukan Kemenkominfo tak menyurutkan kampanye kaum terlaknat LGBT, bahkan seolah pepatah “mati satu tumbuh seribu”, grup-grup online LGBT dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan beragam aplikasi media sosial masih sangat banyak. Kampanye via media sosial ini mereka lakukan dalam rangka menularkan perilaku mereka untuk mencapai target komunitas dalam upaya pelegalan eksistensi mereka sah secara hukum.

Dalam sistem sekuler-kapitalis seperti saat ini memblokir sosial media sebagai sarana penyebaran LGBT tidaklah mudah, apalagi ketetapan pemblokiran aplikasi harus mengikuti beberapa aturan di antaranya jika konten dari aplikasi tersebut mengandung pornografi, namun hal itu tidak berlaku pada aplikasi yang “hanya” berisi ide rusak LGBT.

Perbuatan LGBT ini jelas tidak sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun naluri seksual adalah fitrah yang diberikan kepada manusia namun ada aturan dalam memenuhinya. Selain itu ada juga tujuannya yaitu untuk melestarikan keturunan umat manusia, dan ini akan terjadi antara pria dengan wanita saja.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku menyimpang, pertama adalah faktor ekonomi, kedua faktor pola asuh keluarga baik di dalam maupun di luar rumah, ketiga faktor lingkungan, pergaulan, bacaan, dan tontonan yang tidak mendidik.

Selain beberapa faktor diatas, berkembang pesatnya kasus LGBT ini juga disebabkan oleh adanya HAM yang sesungguhnya salah satu instrumen barat dalam menyebarkan ideologi kapitalismenya. Berkembangnya ide HAM ditengah-tengah kehidupan jelas atas kepentingan barat, baratlah yang selama ini paling getol mengkampanyekan HAM. Program utama Duta Besar AS di Indonesia adalah HAM. Dengan HAM barat juga terus berupaya menyerang dan memojokkan kaum muslim dan hukum-hukum Islam. Aturan- aturan Islam yang agung sering digerogoti oleh isu-isu HAM.

Adapun dampak dari HAM terhadap kehidupan sosial masyarakat adalah liberalisasi. Liberalisasi kehidupan sosial telah menghasilkan pola kehidupan tanpa aturan atau bebas. Akibat buruk yang bisa dirasakan atas bebasnya tata nilai kehidupan ini adalah tercabutnya rasa malu dan hilangnya perasaan dosa ketika generasi muslim melakukan tindakan diluar batas pemikiran.

Selain itu penyebab maraknya LGBT adalah karena rapuhnya keimanan, minimnya nilai pertahanan ke-Islaman orang tua dan anak, budaya hidup yang hedonis, kurangnya kontrol dari masyarakat dan abainya negara dalam mengatur urusan umatnya.

Karena LGBT ini bukan fitrah, tetapi penyimpangan perilaku, maka LGBT ini justru membahayakan individu, keluarga, masyarakat dan negara. Bagi individu perilaku menyimpang ini pasti membuatnya tidak bahagia, cemas dan gelisah. Ketakutan serta rasa khawatir akan kehilangan pasangan jauh lebih besar. Akibatnya, ketika ditinggalkan pasangannya, dendam dan tindakan nekat tak jarang dilakukan. Seperti membunuh, memutilasi, menyodomi mayat, dan sebagainya adalah indikasi kerusakan mental penganut LGBT ini. Mereka pun tak jarang terjangkit virus HIV/AIDS. Virus menular dan mematikan ini pun kemudian dibawa pulang. Membuat keluarga menjadi tidak tenang, merasa was-was dan takut. Selain itu, keberadaannya pun menjadi aib bagi keluarganya.

Mentalitas mereka yang lemah dan rusak, ditambah efek penyebaran virus LGBT secara massif, di dukung individu, negara dan badan dunia, menyebabkan dampak kerusakan dan destruktifitasnya menjadi ancaman nyata bagi masyarakat dan negara. Bahkan, LGBT telah menjadi bagian dari penjajahan di dunia Islam itu sendiri.

Berdasarkan fakta-fakta diatas, maka solusi paling sederhana adalah orangtua harus meningkatkan pengawasan terhadap anak. Karena orangtua memegang peranan penting untuk mendidik anak-anak dengan hukum Islam, dan tak kalah pentingnya upaya orangtua untuk selalu meningkatkan komunikasi dengan anak dan memastikan bahwa anak berada pada lingkungan yang aman. Dengan begitu, celah penyimpangan perilaku pada anak, sejak dini bisa dideteksi dengan mudah, dan diatasi. Sampai hal-hal yang detail, seperti berpakaian, tutur kata, cara berjalan dan sebagainya, semuanya bisa dibentuk sesuai dengan standar hukum Islam.

Selain orang tua, masyarakat juga harus berperan aktif dalam mewujudkan sistem yang aman bagi anak. Ketika LGBT diharamkan maka seharusnya masyarakat juga satu pemikiran, satu perasaan dan peraturan dalam masalah ini. Pemberantasan tak akan efektif jika sebagian masyarakat menyerukan STOP LGBT, tetapi masyarakat yang lainnya justru memfalisitasi.

Yang tak kalah penting adalah peran negara, sebab negara memiliki kemampuan untuk membentuk kesiapan individu, keluarga, serta masyarakat. Selain itu negara juga bisa memberikan sanksi tegas terhadap para pelaku LGBT yaitu dihukum mati. Hal ini dilakukan agar bisa memberikan efek jera dan tidak ada lagi orang yang berani untuk melakukan tindakan LGBT, dan juga sebagai tebusan dosa di akhirat.

Siapa saja yang menjumpai satu kaum yang mengerjakan perbuatan Nabi Luth maka bunuhlah pelaku dan teman (kencan)-nya”  (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

LGBT akan terus dilindungi selama kita masih menggunakan sistem sekuler yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka sudah saatnya kita campakkan sistem sekuler ini dan berganti dengan sistem yang mulia, sistem yang meletakkan manusia sesuai fitrahnya. Yaitu sebagai Hamba Allah yang berakal untuk menjalankan kehidupan ini sesuai dengan aturan yang telah Allah tetapkan melalui tuntunan Al-qur’an dan sunnah. Yang mampu menjamin kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga para pelaku LGBT tidak bisa terus berkembang menjadi suatu wabah yang menakutkan bagi generasi negeri ini. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

LGBT Dirajam, Pendekar HAM Meradang

Kerajaan Brunei Darussalam pada Rabu, 3 April 2019, resmi memberlakukan hukum syariah Islam yang mencantumkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *