fbpx
Rabu , 15 Juli 2020
Beranda / Artikel / Suara Ulama Untuk Suara Rakyat

Suara Ulama Untuk Suara Rakyat

Penulis: Isna Yuli
(Woman Movement Institute)

Membincang tentang demokrasi erat kaitannya dengan suara rakyat dan pesta demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi suara rakyat menjadi kunci keberhasilan untuk meraih kekuasaan. Oleh karenanya banyak hal dilakukan demi meraih suara rakyat. Tak jarang mereka juga menggunakan intimidasi, suap dan berbagai kecurangan lain.

Namun dewasa ini rakyat telah banyak belajar dari pengalaman. Pemikiran masyarakat telah banyak terbuka, bukan dikarenakan pendidikan politik yang diterima, melainkan kebijakan dan gerak gerik politikus dan pemimpin negeri ini yang membuat rakyat semakin sadar. Sehingga intimidasi dan suap tidak lagi efektif digunakan untuk mendapat dukungan. Meskipun demikian cara-cara ini masih juga dipakai di sebagian wilayah.

Selain cara licik konvensional di atas, saat ini pemain dalam sistem demokrasi mulai memainkan cara-cara halus. Mulai dari mencari simpati menggunakan play victim, mendekati tokoh masyarakat, terjun ke masyarakat langsung dan yang tak kalah dari semua itu adalah mencari simpati ulama.

Mengapa ulama dianggap sangat penting? Ya, karena mayoritas masyarakat Indonesia muslim. Suara serta keberpihakan ulama mampu menggaet ratusan bahkan ribuan santri serta jamaahnya. Inilah mengapa para capres dan cawapres banyak mencari dan mendekati para ulama.

Salah satu contoh pentingnya ulama sebagai alat legitimasi perolehan suara adalah dipilihnya salah satu ulama terpandang di negeri ini guna mendampingi salah satu calon presiden. Jika kita amati, pemilihan ulama sebagai cawapres dari capres yang notabene adalah petahana merupakan salah satu cara meraih dukungan kaum muslim. Selaras dengan apa yang dikatakan KH. Ma’ruf Amin pada Tablig Akbar bersama Thariqat Naqshabandiyyah dan Samaniyah di Gelanggang Olahraga Muhammad Yamin Payakumbuh, beliau menepis berbagai tuduhan yang dialamatkan kepada petahana. Segala pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang ulama tersebut diharapkan mampu menepis semua tuduhan rasis yang dialamatkan kepada petahana.

Berbagai pujian terkait ibadah tak luput ia lontarkan demi menaikkan elektabilitas keduanya. Namun hal ini mudah saja terbaca oleh masyarakat. Berbagai fakta persekusi terhadap ulama dan politisi oposisi nampaknya lebih pahit dirasakan oleh masyarakat. Dan itu tak bisa ditawar hanya dengan gula-gula pujian.

Ulama dan pemimpin memang seharusnya tak terpisah, artinya sebagai pemimpin, seseorang harus mendengar nasehat dan petunjuk dari ulama. Sebab dalam Islam politik adalah riayah su’unil ummah (mengurusi urusan umat/ rakyat). Sedangkan peraturan yang terbaik bagi manusia dalam segala bidang termasuk politik pemerintahan adalah aturan yang bersumber dari Al Quran dan as Sunnah. Sedangkan ulama adalah seseorang yang banyak paham isi Al Quran dan as Sunnah.

Jika dalam penyelenggaraan pemerintahan seorang pemimpin melakukan penyimpangan atau kedzaliman terhadap rakyatnya, maka tugas utama seorang ulama adalah menasehati (muhasabah). Bukan malah melegitimasi segala kebijakan sehingga terkesan benar di mata hukum Islam. Atau justru mendekat penguasa untuk mencari duniawi semata. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

People Power dan Perubahan Masyarakat

Tanggal 21-22 Mei 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia melakukan aksi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *