fbpx
Rabu , 21 Oktober 2020
Beranda / Artikel / Bun, Begini Menyikapi Kesalahan Anak

Bun, Begini Menyikapi Kesalahan Anak

Penulis: Hanifatus Suhro
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, begitu juga anak-anak. Namun sayangnya, banyak ibu yang merespon dengan mudah memarahi anaknya ketika melakukan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan anak-anak bisa karena anak tidak tahu, khilaf, sengaja atau tidak sengaja, atau sedang belajar mencoba sesuatu yang baru. Anak adalah pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang, kematangan berfikirnya masih belum sempurna sehingga wajar jika anak-anak melakukan kesalahan.

Seorang ibu tidak perlu merespon berlebihan seperti memarahi, membentak hingga memukul anak. Karena respon yang tidak baik dan benar akan berdampak buruk bagi anak bahkan berdampak jangka panjang. Mungkin maksud ibu baik untuk menegurnya. Menegur kesalahan anak memang perlu namun ingat menegur anak ditujukan untuk mendidik dan memperbaiki kesalahan mereka bukan untuk menghancurkan hati dan akal mereka. Maka perlu kita sebagai orang tua atau orang terdekat anak-anak untuk belajar menahan diri dari perkataan buruk, mulai menata emosi dan perkataan agar tujuan menegur anak tercapai.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lise Gliot kepada anaknya sendiri dengan memasang kabel perekam otak yang kemudian dihubungkan dengan monitor computer. Dengan itu ia bisa melihat pada setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. Dalam penelitian tersebut, Gliot dapat melihat rangkaian indah ketika sang buah hatinya disusui oleh ibunya dengan penuh kasih sayang. Lalu saat anaknya terkejut dan mendengar bentakan, rangkaian indah tersebut menjadi gelembung yang kemudian pecah dan berantakan serta menyebabkan perubahan warna. Dari penelitian ini maka tampak jelas bahwa marah dan bentakan pada anak memengaruhi perkembangan otak anak.

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani mengatakan bahwa membentak anak akan berpengaruh buruk karena bisa membuat ikatan batin antara orang tua dan anak menjadi renggang. Beliau juga menjelaskan bahwa secara medis suara yang keras dan bentakan yang keluar dari mulut orang tua dapat merusak atau menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh terutama pada masa “golden age” yakni usia 2-3 tahun. Dampak lanjutan dari bentakan bisa berbekas pada ingatan anak, trauma yang akan memengaruhi perilaku anak ketika beranjak dewasa.

Anak yang kerap dimarahi dan dibentak sejak kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang minder, takut mengutarakan pendapat atau mencoba sesuatu, anak akan menjadi pribadi yang tertutup dan apatis. Di sisi lain memungkinkan anak menjadi suka marah, egois, dan keras kepala. Anak cenderung akan meniru orang tuanya. Anak yang selalu dibentak, diomeli atau dimarahi akan dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa tak mengapa berkomunikasi dengan omelan dan bentakan sebagaimana orang tuanya.

Selanjutnya, Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengatakan membentak dapat merusak anak. Kerusakan yang terjadi bisa bertahan hingga anak remaja bahkan dewasa.

Dari penjelasan yang telah diuraikan di atas maka sebagai orang tua atau orang terdekat anak perlu menghindari ungkapan marah, bentakan hingga kekerasan fisik pada anak dan perbuatan yang tidak baik lainnya.

Bun, Begini, Menyikapi Kesalahan Anak

  1. Tahan Amarah

Berusahalah untuk tidak langsung mengeluarkan emosi yang dirasakan, duduk sejenak atau tarik nafas. Ingatlah ketika kita akan marah bahwa anak sangat peka dengan emosi yang ada di sekitarnya, bagaimana emosi orang tua menghadapi anak itu kemungkinan besar dapat ditiru oleh anak, berhati-hatilah, ia adalah peniru yang ulung. Jika kita mampu bersabar dalam menyikapi mereka tentu akan ada balasan pahala dari Allah dan kelak kita akan menuai buah dari kesabaran yang manis bagaikan madu. Yaitu ketika mereka telah dewasa, kala mereka telah terbiasa dan terdidik dengan kebaikan yang kita ajarkan dan mereka menjadi manusia yang taat pada Rabbnya.

  1. Maklumi Kesalahannya.

Setiap manusia termasuk anak wajar jika melakukan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan anak bisa jadi karena mereka tidak tahu itu salah, khilaf, ingin mencoba hal yang baru, dan sebagainya. Pada usia anak-anak, kematangan berfikirnya masih belum sempurna. Maka maklumilah kesalahan mereka.

  1. Ajak Diskusi dan Berfikir

Ajak mereka berkomunikasi dengan baik sesuai level berfikir atau kemampuan anak. Buat mereka nyaman dan aman menuangkan perasaannya sehingga dengan mendengarkan alasan anak melakukan kesalahannya, kita menjadi paham alasan mereka. Lalu kita ajak diskusi, berfikir bersama untuk memahami masalah tersebut dan memberikan arahan bagaimana seharusnya mereka bersikap dan berperilaku sesuai level berfikir dan kemampuan anak kita. Dengan cara seperti itu maka secara tidak langsung kita menanamkan cara berfikir tentang masalah dan menyelesaikan masalah. Sehingga mereka tidak terkesan dipojokkan atau merasa selalu salah di mata orang tua.

Untuk anak remaja usia diatas 14 tahun maka posisikan mereka sebagai sahabat, mereka biasanya tidak suka digurui, maka menjadi sahabat dekat dengan mereka itu perlu, menjadi pendengar yang baik bagi mereka sehingga arahan atau saran kita mudah diterima. Ketika mereka melakukan kesalahan, kita perlu memberikan nasihat dengan baik dan motivasi agar menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pada dasarnya anak lebih mau bergerak dengan ajakan dan motivasi bukan dengan banyak menyalahkan dan sering memarahinya walaupun ia salah. Ketika anak mengedepankan ego nya maka perlu teknik untuk menundukkannya.

  1. Beri apresiasi dan Minta Bertanggung jawab.

Ketika anak berbuat salah kemudian ia jujur, mengakui kesalahannya serta minta maaf maka sebagai orang tua perlu memujinya. Agar mereka memahami bahwa orang tuanya menyukai dia berbuat jujur dan mengakui bersalah ketika bersalah. Maka anak akan terbiasa menjadi pribadi yang jujur, dan tidak keras kepala. Setelah mengajak mereka berfikir atas kesalahan mereka maka setelah itu minta mereka bertanggung jawab, menerima konsekuensi atas kesalahan, dan meminta agar mereka berbenah dan tidak mengulangi lagi.

  1. Berikan Tsaqofah Islam dan Tauladan yang baik

Pendalaman aqidah Islam, tsaqofah Islam, serta diiringi tauladan yg baik oleh orang tua adalah upaya mencegah kesalahan-kesalahan yg bisa dilakukan anak. Bisa jadi anak-anak melakukan kesalahan atau berbuat maksiat karena aqidah Islam mereka belum kokoh, minimnya tsaqofah islam anak atau tercampur dan condrong kepada tsaqofah asing. Kesalahan anak bisa jadi karena teladan yang buruk dari orang tua atau orang terdekatnya. Maka menjadi teladan yang baik dalam kebaikan itu perlu kita upayakan.

  1. Mendoakan Anak

Selalu berdoa kepada Allah agar anak kita tumbuh menjadi anak yang shalih/ah, anak yang berkepribadian Islam, anak yang taat dan berbakti pada orang tuanya. Tak lupa juga berdoa semoga Allah berikan kita kesabaran dalam mengasuh dan mendidik anak. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Mimpi Mewujudkan Internet Layak Anak

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai internet di Indonesia belum layak anak karena masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *