fbpx
Rabu , 3 Maret 2021
Beranda / Artikel / Perzinahan Merebak, Ini Solusinya
Sumber: suarasurabaya.net

Perzinahan Merebak, Ini Solusinya

Penulis: Hanifa
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Perzinahan kian merebak! Kali ini viral kasus prostitusi online yang melibatkan salah satu artis Ibu kota yakni VA. VA ditangkap oleh Polda Jatim di sebuah hotel di Surabaya. Fenomena prostitusi tak kunjung hentinya. Bisnis prostitusi bahkan semakin berkembang dengan semakin majunya teknologi (kompas.com 10/01/2019).

Miris, melihat sebagian komentar para netizen nampaknya ada upaya pengkaburan makna perzinahan yang sebenarnya. Bagaimana tidak? Masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, zina dianggap bukanlah kriminal bahkan lebih miris lagi zina ada yang menganggap sebagai hak asasi manusia yang harus dipenuhi.

Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia memang mengatur terkait perzinahan. Antara lain yakni diatur dalam KUHP, UU RI Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, UU RI Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE, UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, serta UU RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Dalam perundang-undangan Indonesia, pelaku perzinahan dianggap melakukan tindak pidana jika salah satu atau kedua pihak bukan suami-istri serta dari pelaku telah melangsungkan perkawinan yang sah dengan orang lain, perzinahan karena pemerkosaan, pelaku perzinahan yang dengan sengaja mengeksplor gambar dan videonya secara online dengan tujuan tertentu misal untuk prostitusi online. Hal ini tergantung bagaimana penyidik dan jaksa mendapatkan bukti dan membuktikan sangkaan atau dakwaannya. Sebagaimana kita ketahui kini VA dijerat Undang-Undang ITE tentang kesusilaan sebagaimana tertuang dalam pasal 27 ayat 1 (CNN Indonesia, 20/01/2019).

Sosiolog Imam Prasodjo menilai praktik prostitusi yang dilakukan selebriti tercipta sebagai dampak era kapitalisme global, segalanya bisa dikomoditikan, bisa diperjual-belikan termasuk imaji (BBC News Indonesia, 06/01/2019). Kapitalisne telah menjadikan  materi duniawi sebagai tolak ukur kebahagiaan. Tuntunan glamor, gaya hidup mewah seakan-akan menjadi keharusan sehingga jatuh kepada kenestapaan materi dunia yang menipu. Inilah bukti bobroknya sistem kapitalisme. Kapitalisme adalah sistem rusak yang melanggengkan kerusakan.

Saat ini standar perbuatan yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat tidak lagi halal dan haram dalam syariat Islam namun kemanfaatan. Oleh karenanya sebagaimana perkataan dua muncikari yang saat ini dijadikan tersangka, mereka mengatakan bisnis yang dilakukan mereka adalah menggiurkan, menguntungkan. Ia bisa memperoleh uang ratusan ribu hinga berjuta rupiah untuk satu pelanggan. Nyatanya mereka salah, bukan untung sebenarnya yang didapatkan akan tetapi kerugian yang sangat besar jika mereka tidak bersegera bertaubat.

Keridhaan Allah tidak dijadikan tujuan sehingga cara apapun dipakai yang penting mendapatkan uang sebanyak-banyaknya termasuk dgn cara menjual dirinya. Padahal hakekatnya tubuh tidak bisa-diperjual belikan. Ini sungguh miris!

Sebagai seorang muslim tentunya kita meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Islam susungguhnya tidak hanya untuk suatu kaum tapi bagi seluruh manusia baik muslim dan nonmuslim. Dalam Islam tidak ada kebebasan berperilaku, setiap muslim wajib terikat dengan hukum syara’ dalam segala aktivitasnya baik dalam hal privat maupun publik. Sedangkan bagi nonmuslim wajib menaati syariat Islam yang terkait dengan muamalah dan segala bentuk hubungan kemasyarakatan. Sehingga semestinya larangan praktik prostitusi/perzinahan mestinya berlaku bagi muslim maupun nonmuslim.

Islam sesungguhnya memiliki seperangkat aturan yang mengatur cara mencegah dan mengatasi prostitusi/perzinahan. Pertama adalah pendidikan Islam baik formal maupun informal dimana dari pendidikan ini bertujuan menciptakan individu-individu yang bertakwa. Individu-individu yang memahami Islam. Karena dengan pemahaman atas syariat Islam dan memahami bahwa kita terikat dengan hukum syara’ maka individu-individu akan memiliki benteng untuk mencegah perbuatan maksiat, termasuk zina dan perbuatan yang mendekati zina.

Peran media dalam Islam mestinya mengedukasi masyarakat bukan menayangkan hal-hal yang malah merusak akidah atau bertentangan dengan hukum syara’. Kita lihat media saat ini dimana mempertontonkan aktivitas pacaran, wanita-wanita seksi, dsb. Kita juga melihat saat ini bagaimana kaum muslim menjadi asing dengan agamanya dan standar mereka pun bukan lagi halal-haram menurut Allah.

Begitupun dalam pergaulan Islam yang mengatur kita untuk menjaga kehormatan, menjaga aurat, dan menjaga interaksi dengan lawan jenis ataupun sesama jenis, ada larangan khalwat, ikhtilat, mejaga pandangan, dsb. Dari hal ini kita bisa melihat bagaimana kondisi pergaulan saat ini, menjaga pergaulan di sistem saat ini memang tak mudah.

Dalam hal ekonomi, sesungguhnya Islam mempunyai seperangkat aturan, sistem yang mana dengannya dapat meratakan distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Negara memiliki kewajiban menyediakan lapangan pekerjaan yakni pekerjaan yang layak dan mumpuni bagi setiap lelaki untuk mencukupi nafkah dalam keluarganya. Dari hal ini kita bisa melihat bagaimana perekonomian saat ini, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, mendapatkan pekerjaan pun susah.

Kemudian Islam mengatur mengenai sistem saksi dalam islam khususnya mengenai hukum bagi perzinahan. Pezina perempuan dan pezina laki-laki,deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah merasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kaum beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. (QS. An-Nur: 2)

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Ambillah dariku! Ambillah dariku! Sesungguhnya Allâh  telah menjadikan untuk mereka (para wanita yang berzina) jalan keluar . Perzinaan antara yang belum menikah dengan yang belum menikah adalah didera sebanyak 100 kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan perzinaan antara orang yang sudah menikah dengan yang sudah menikah adalah didera sebanyak 100 kali dan dirajam.” (HR Muslim)

Zina merupakan dosa besar. Pelaku zina diberi hukuman yang tegas. Pelaku zina dibagi menjadi dua yakni ada yang berstatus telah menikah (Al-Muhshan) dan ada pula yang belum menikah (Al-Bikr). Keduanya memiliki hukuman yang berbeda. Pezina Al-Muhshan dihukum dengan rajam (dilempar dengan batu hingga meninggal). Seorang dikatakan Al-Muhshan pun harus memenuhi kriteria-kriteria seperti pernah melakukan jima’ berdasarkan pernikahan yang sah, baligh dan berakal, bukan budak belian, dsb. Sedangkan hukuman bagi pezina yang tidak Al-Muhsan maka dicambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun.

Sedangkan bagi pelaku bisnis prostitusi yang tidak berbuat zina misal muncikarinya maka Islam menyerahkan kepada Khalifah untuk menjatuhkan sanksi yang berefek jera.

Ibnu Taimiyah berkata: “Penegakan hudud adalah kewajiban pemimpin, yaitu dengan menetapkan hukuman bagi siapa saja yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram.” (Ibnu Taimiyah, Al-Hisbah, hal. 55).

Hukuman tersebut diperlihatkan kepada masyarakat agar tidak hanya menimbulkan efek jera bagi pelaku tapi juga bagi yang belum melakukannya. Saksi pidana Islam sesungguhnya sebagai jawabir (penebus siksa akhirat) dan sebagai jawazir (pencegah terjadinya tindak kriminal yang baru terulang kembali/efek jera). Jadi ada jaminan bahwa perbuatan yang telah dihukum di dunia berdasarkan syariat Islam maka tidak akan ada hukuman lagi di akhirat

Seperangkat aturan untuk mencegah dan mengatasi perzinahan dalam Islam, sesungguhnya memiliki hikmah yakni agar mencegah penyebaran kejahatan berzina dan kejahatan lainnya yang disebabkan perzinahan seperti pembunuhan oleh suami dari perempuan pezina kepada lelaki pezina, terjaganya kehormatan perempuan, mencegah pencampuran nasab (keturunan), mencegah banyaknya anak yang terlantar, menjaga keutuhan dan ketentraman dalam rumah tangga,mencegah penyakit menular seperti HIV/AIDS.

Maka Islam adalah satu-satunya solusi terbaik atas permasalahan ini karena syariat Islam adalah hukum yang terbaik. Dan selayaknya sebagai seorang muslim, kita menginginkan kebaikan dengan hidup dalam syariat Islam. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Kasus Kriminalitas Makin Mengganas, Mengapa Begitu?

Kriminalitas yang terjadi di tengah masyarakat kian hari memprihatinkan saja dan semakin beragam motifnya. Bak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *