fbpx
Senin , 17 Februari 2020
Beranda / Artikel / Panahan Tradisional Jemparingan
Indonesia memiliki tradisi memanah tradisional yang telah ada sejak zaman kerajaan ratusan tahun silam. Salah satunya ialah Jemparingan. (Sumber: boombastic.com)

Panahan Tradisional Jemparingan

Penulis: Andi Poetro
(Komunitas Penulis Hebat)

Busur dan panah telah hadir pada budaya Yunani sejak keduanya berasal dari Predinastik (masa sebelum ada kerajaan). Di Levant, artefak yang mungkin menjadi gagang panah pelurus diketahui berasal dari budaya Natufian, ke depan. Orang-orang El-Khiam dan PPN A memanggul Khiampoints mungkin sebagai panah. Peradaban klasik, terutama Assirian, Persian, Parthian, Indian, Korean, Cina, Jepang dan Turki menerjunkan pemanah dalam jumlah yang besar pada tentara perangnya. Busur besar Inggris terbukti nilainya untuk pertama kali di Perang Benua ketika Pertempuran Crecy. Pemanah Amerika telah tersebar luas ketika Kontak Eropa. Panahan berkembang pesat di Asia. Istilah Sansekerta untuk panahan, dhanurveda, pada saat ini digunakan untuk istilah seni beladiri. Di Asia Timur, Goguryeo, satu dari Tiga Kerajaan Korea, terkenal dengan resimennya sangat berbakat dalam memanah.

Bersumber dari hura-hura.wordpress.com bahwa di Indonesia panah dikenal luas pada masa bercocok tanam, suatu babakan dalam prasejarah yang bertarikh beberapa ribu tahun yang lalu. Temuan mata panah banyak terdapat pada sejumlah situs arkeologi, antara lain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Di Jawa Timur mata panah ditemukan di Gua Lawa (Sampung), Gua Gede (Tuban), Gua Petpuruh (Besuki), dan Gua Kramat (Bojonegoro). Umumnya mata panah yang ditemukan di Jawa Timur berbentuk segitiga dengan bagian basis bersayap dan cekung. Ada pula yang cembung atau kadang-kadang rata tidak bersayap. Ukuran panjang dari mata panah yang ditemukan antara 3-6 cm, lebar basis 2-3 cm, dengan ketebalan rata-rata 1 cm. Bahan yang digunakan untuk pembuatan mata panah ini adalah batu gamping. Seluruh permukaan dikerjakan dengan amat teliti. Di bagian ujung dan tajamannya ditatah dari dua arah sehingga menghasilkan tajaman yang bergerigi atau berliku-liku.

Pengalaman saya selama menekuni di dunia panahan tradisional beberapa tahun ini, kegiatan olahraga panahan tradisional di Indonesia kembali marak dan banyak komunitas-komunitas pecinta panahan tradisional bermunculan. Kegiatan ini mulai kembali hidup bukan karena tanpa dasar, komunitas-komunitas pecinta panahan tradisional ini tercipta dikarenakan ingin melesatrikan salah satu kegiatan kebudayaan pada era kerajaan dan ingin menghidupkan salah satu sunnah Rasulullah. Di Indonesia saat ini kegiatan Panahan Tradisional dibagi menjadi dua yaitu Panahan Djemparingan Gagrak Mataraman dan Horsebow. Dalam kesempatan ini saya akan membahas mengenai Panahan Djemparingan Gaggrak Mataraman.

Fadhilah Memanah Menurut Islam

Fadhilah atau keutamaan memanah cukup banyak salah satunya bersumber dari hadits menurut ajaran Islam. Dalam hadits shahih Muslim, dari Uqbah bin Amir, dia berkata :Aku mendengar Rasullah Sallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. Al-Anfal [8]: 60). Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah,Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.

Imam Ath-Thabarani telah meriwayatkankan hadist dari Sa’id bin Musayyib dari Abu Dzar, dia berkata : Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang berjalan di antara dua sasaran memanah, maka dalam setiap langkah kakinya terdapat satu kebaikan.”

Maksud Dua Sasaran: Disunnahkan bagi pemanah memiliki dua target sasaran. Jadikanlah keduanya berhadapan dengan jarak tertentu, memanahlah dari salah satu targetnya, kemudian menghampiri dan mengambil anak panahnya dari target tersebut. Setelah itu mulai memanah dari tempat tersebut ke target sasaran yang kedua, demikian kebiasaan sahabat-sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wassalam. Seperti halnya yang dilakukan para sahabat-sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wassalam yang mahir dalam memanah adalah sahabat Saad bin Abi Waqqash, Shuhaib Ar Rumi, dan Uqbah bin Amir Al Jumahi.

Sejarah Jemparingan

Menurut pembicara sekaligus pelatih di event Pelatihan Atlet Panahan Tradisional Dispora Surabaya yaitu Mas Mochammad Amin bahwa Jemparingan merupakan tradisi panahan khas Jawa yang sudah ada sejak masa kerajaan di tanah Jawa, bahkan jauh sebelum masa kerajaan ada, ilmu dan tradisi Jemparingan sudah ada dan sudah digunakan dalam berburu dan berperang di negara manapun. Pada awalnya Jemparingan merupakan tradisi panahan prajurit Keraton khususnya Mataram Islam. Namun perkembangan berikutnya permainan ketangkasan memanah yang semula hanya dilakukan para prajurit Keraton ini semakin bergeser menyebar di masyarakat Yogyakarta, Surakarta dan Trenggalek serta di daerah-daerah yang memang memiliki Kadipaten atau Keraton yang memiliki prajurit pemanah. Tidak bisa disangkal bahwa Sri Paku Alam VIII adalah pendobrak pertama munculnya PERPANI di Yogyakarta pada  12 Juli 1953 dan sekarang menjadi satu bagian olahraga yang dilombakan, baik secara resmi maupun secara tradisional.

Jemparing sendiri ada yang menyebutkan berasal dari bahasa Sunda yang kemudian memasyarakat hingga sekarang. Di Jawa sendiri penyebutan jemparing pada awalnya lebih dikenal dengan nama Warastro (yang bisa diartikan anak panah/dedher, bisa juga seperangkat gendewa dan anak panahnya/dedher), Astra, Sara, Bana, Braja, Margana, Undlup, Sayaka, dan Naraca. Di Trenggalek menyebutnya Paser sementara di Madura menyebutnya Pajer. Busurnya sendiri disebut Gendhewo (nama Gendhewo berasal dari senjata busur panah yang bernama Gandhiva yang dimiliki oleh Arjuna salah satu tokoh Pandawa) dan ada pula yang menyebutnya Dhanu.Kata Jemparing sendiri adalah berarti anak panah, sementara Jemparingan bisa diartikan bermain panahan atau penyebutan secara umum untuk pemanah atau orang yang melakukan aktifitas memanah. Jemparingan di Mataram lebih dikenal dengan sebutan Jemparingan Jawi Gaggrak Mataraman dan istilah inilah yang kemudian menjadi aliran Jemparingan Mataraman.

Kebutuhan-Kebutuhan Jemparingan

Untuk melakukan kegiatan olahraga Jemparingan dibutuhkan beberapa alat dan aturan mainnya sebagai berikut:

  1. Gendhewo/Busur
Gambar: Gendhewo atau busur (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gendhewo atau Busur adalah Serangkaian alat untuk memanah yang terdiri dari beberapa bagian yaitu cengkolak, Sayap/Lar, Kendheng, dan Coak.Untuk pembuatan Gendhewo tidak berpatok pada satuan Lbs, karena tarikan tarikan pada jemparingan disesuaikan dengan kondisi pemiliknya yang dihitung dengan ukuran panjang rentang tangan dan tinggi badan, sehingga satuan Lbs kurang begitu dikenal di dunia Jemparingan. Umumnya untuk standarisasi ukuran Gendhewo adalah ukuran tinggi badan penjemparing dalam posisi Kendheng/String terpasang atau paling tidak 5-10 cm dibawah tinggi pejemparing.

Gambar: Coak dan Cengkolak
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Cengkolak adalah Handle bagian dari Gendhewo yang befungsi sebagai badan untuk pegangan yang terbuat dari bahan kayu. Coak adalah lubang tengah di handle atau tempat menempatkan bidikan anak panah untuk dilesatkan.

Gambar: Sayap/Lar dan Kendheng
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar: Cang
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Sayap atau Lar adalah sebuah sayap atas pada busur yang berguna menghasilkan kekuatan  lecutan pada anak panah saat ditarik oleh pemanah, Lar untuk panahan tradisional terbuat dari bahan bambu dengan jenis Bambu Pethung. Kendheng adalah tali busur  yang berfungsi untuk melesatkan anak panah dan pada tali busur terdapat bagian-bagian yaitu mata tali (loop) yang dimasukkan pada ujung sayap atas dan bawah , nocking point yang digunakan sebagai tempat anak panah di tali dan balutan tali (serving). Untuk menarik Kedheng/String dan melesatkan anak panah dengan menggunakan teknik tiga jari atau three fingers. Cang adalah bagian ujung atas dan bawah limb, berfungsi untuk mengaitkan kendheng.

2. Warastro

Gambar: Warasostro
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Warastro atau Dedher adalah Anak Panah atau Arrow dalam istilah bahasa Inggris, ada banyak macam warastro yang dibuat oleh para Mpu pembuat warastro tradisional. Jenis tersebut adalah Warastro Engkel  yaitu warastro dengan satu bambu dan Warastro Gaplok yaitu anak panah laminasi bambu dengan bambu.Untuk ukuran warastro jemparingan rata-rata berdiameter 5,5 mm – 6 mm dengan panjang 60 cm – 75 cm, bergantung juluran panjang tangan pemiliknya. Bagian-bagian dari anak panah jemparingan adalah Bedor, Shaft/Dedher, Wulu, dan Nyenyep.

Gambar: Bedor
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bedor atau poin adalah mata anak panah yang terbuat dari bahan metal,baja baja stainless dan ujung sangat runcing dan tajam.

Gambar: Shaft/Dedher
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Shaft atau Dedher adalah badan anak panah, bagian utama dari anak panah yang terbuat dari bahan bambu pethung untuk di jemparing. Shaft juga dapat dibuat dari bahan kayu dan rotan untuk tradisional selain menggunakan bambu sedang untuk modern menggunakan bahan carbon, alumunium dan fiberglass.

Gambar: Wulu dan Nyeyep
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Wulu adalah Bulu yang berfungsi untuk menstabilkan anak panah setelah terlontar dari busur. Para Mpu umumnya menggunakan bulu entok dikarenakan bulu entok sangat kedap air, selain bulu entok dapat menggunakan bulu Kalkun, Mliwis, Elang.Selain itu dalam pemilihan bulu harus dari bulu terbang bukan dari bulu yang lainnya. Bulu terbaik masih dipegang bulu sayap burung Elang. Nock adalah bagian yang menahan panah pada tali busur pada umumnya terbuat dari bahan plastik.

3. Target Bandul

Gambar: Target bandul
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Wong-wongan atau lebih dikenal dengan sebutan Bandul adalah target utama yang menjadi sasaran atau bidikan Warastro Jemparingan. Panjang bandul adalah 30 cm dan berdiameter 2-3 cm. Bandhul biasanya di ikat di tengh-tengah Kebher atau target utama yang dijadikan dasar. Bandul ada dua macam yaitu ada yang hanya memiliki dua warna (warna merah dan putih), ada pula yang memiliki empat warna yaitu merah untuk kepala, kuning untuk leher, putih untuk badan dan hitam untuk bokong. Biasanya yang terkena bokong maka akan dikurangi point nilainya. Nilai dalam bandul yaitu warna merah (kepala) bernilai tiga, warna kuning (leher) bernilai dua, warna putih (badan) bernilai satu, dan warna hitam (bokong) bernilai minus satu. Dalam memasang bandul disertai juga dengan memasang lonceng atau klonengan sapi yang di ikat diantara bandul, fungsi dari lonceng tersebut sebagai penanda isyarat kalau ada warastro/anak panah yang menclok atau menancap ke Bandul. Inilah sensasi yang berbeda dan tidak dapat ditemukan di panahan pada

Gambar: Kebher
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

umumnya.

4. Kebher/Backstopper

Kebher adalah background target belakang bandul yang berfungsi untuk menghentikan lesatan anak panah jika tidak terkena target bandul. Untuk ukuran kebher bermacam-macam pada umumnya beukuran sekitar 200 cm x 130 cm terbuat dari bahan spon eva yang tebalnya bervariasi. Untuk memilih kebher diusahan jangan terlalu tebal agar ketika mencabut anak panah tidak berat atau kesulitan. Kebher yang tipis keuntungannya adalah tidak menjadikan anak panah gampang rusak dan melintir karena salah mencabut.

5. Aturan Main atau Adab Latihan Jemparingan

Adab dalam latihan Jemparingan sangatlah penting, karena adab adalah satu proses memahami makna latihan Jemparingan. Adapun adab saat berlatih maupun gladen Jemparingan meliputi :

  1. Mempersiapkan gendhewo dan anak panah tradisional yang terbuat dari bambu.
  2. Mengenakan baju adat Jangkep atau lengkap dengan segala atribut dan aksesorisnya.
  3. Duduk bersila dengan sikap teratai,anak panah taruh dipangkuan kita beserta busurnya.
  4. Berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
  5. Tidak boleh menembak atau melepaskan anak panah jika di depan kita ada makhluk hidup.
  6. Selalu mengutamakan silaturahmi, guyub, dan rukun.

Sebagai anak bangsa hendaknya kita bisa melestarikan dan mencintai budaya negeri nusantara ini dengan aktif mempelajari dan mengimplementasikannya agar tidak hilang tergerus kemodernan jama. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikannya. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *