fbpx
Kamis , 22 April 2021
Beranda / Artikel / Fiktif Kuno? Biarkan Sains yang Menjawab

Fiktif Kuno? Biarkan Sains yang Menjawab

Penulis: Gisela Putri (Komunitas Penulis Hebat, Tinggal di Bandung)

Dilihat dari berbagai hal, Sains atau ilmu pengetahuan tentunya sangat berperan dalam kehidupan manusia, apa dapat dibayangkan jika kehidupan di dunia ini tidak mengenal Sains? Apa orang-orang akan percaya jika pelangi yang turun setelah hujan itu adalah jelmaan dari naga yang tengah turun ke bumi dan minum air? Apakah fiktif kuno akan lebih dipercaya ketimbang penjelasan yang berdasar pada ilmu pengetahuan? Mari kita telaah.       Setiap manusia di dunia ini pasti mengenal Sains meskipun hanya sebatas garis besarnya saja, ilmu pendidikan yang satu ini begitu hebatnya menjelaskan berbagai macam fenomena dengan teorinya. Dilansir dari Wikipedia, ilmu Sains atau yang sering disebut Ilmu Pengetahuan adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia, segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang bersifat pasti.

Sebagai awalan kita akan memperjelas mengenai Sains, Sains sebenarnya berasal dari bahasa latin “Scientia” yang memiliki arti “Pengetahuan” atau “Mengetahui” yang kemudian diserap kedalam bahasa inggris “Science”. Science kemudian disederhanakan dalam serapan bahasa indonesia sebagai kata “Sains” yang merupakan ilmu pengetahuan dimana kita akan mempelajari suatu fenomena alam sehingga dapat mengungkap kemudian memahami rahasia-rahasia yang ada di dalamnya. Ciri khas Sains adalah menggunakan metode ilmiah yang objektif dalam setiap pembelajaran sehingga tidak ada kata kebetulan dalam proses pembelajaran Sains ini, atau dalam kata lain Sains menegaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan fenomena di bumi ini pasti ada dasar dan teorinya.

Objek kajian Sains tentunya benda-benda konkret yang dapat ditelaah oleh panca indera manusia, baik dari segi penglihatan, pendengaran dan lainnya. Benda konkret yang dimaksud adalah benda-benda yang berwujud baik itu dalam bentuk cair, padat maupun gas. Sains juga merupakan ilmu pengetahuan yang menggunakan cara pikir logis dimana hukum-hukum yang berlaku didalamnya bersifat universal.

Science is the attempt to make the chaotic of our sense ecperience correspond to logically uniform system of though”. Jelas Einstein mengenai Sains pada tahun 1940 yang menjelaskan bahwa Sains adalah sebuah bentuk upaya atau kegiatan yang memungkinkan dari berbagai variasi atau pengalaman inderawi yang mampu membentuk sebuah sistem atau pola pikir yang rasional secara seragam.

Menelaah beberapa penjelasan Sains di atas tentunya kita dapat memahami bahwa bumi dan isinya terutama manusia sebagai makhluk hidup begitu memerlukan Sains sebagai ilmu yang menopang proses berjalannya kehidupan sehingga segala sesuatunya dapat dijelaskan dengan Sains. Lantas bagaimana jika Sains tidak ada didunia, apakah Kita dapat membayangkannya? Apa Kita akan bertumpu pada fiktif kuno yang tersebar dari mulut kemulut tanpa segi penjelasan yang akurat? Apa kita akan terbuai dengan banyaknya mitos dan kepercayaan kuno yang terkadang kurang logis jika dipikirkan.

Kita ambil contoh kasus yang pertama, pernahkah Anda sekalian mendengar mitos kuno tentang pelangi? Apa iya jika kita melihat pelangi artinya seekor naga tengah minum air? Atau bidadari tengah turun dari kayangan untuk mandi? Benarkah jika kita mencari ujung pelangi maka kita akan menemukan tong emas? Jawabannya mudah jika didasari ilmu Sains, ketiga mitos tersebut tidaklah benar karena sebenarnya dalam ilmu pengetahuan kita mengenal istilah ilusi optik mata. Pelangi yang kita lihat dengan begitu indahnya adalah salah satu fenomena dari ilusi optik, dimana yang terjadi adalah pembiasan cahaya matahari oleh rintik air hujan sehingga terciptalah ilusi optik mata yang kita sebut  pelangi. Maka dari itu pelangi hanya akan muncul setelah hujan reda atau gerimis.

Lalu ujung pelangi? Sebenarnya ujung pelangi adalah hal yang mustahil untuk dicari mengingat itu hanyalah ilusi optik mata, tetapi berita mengejutkan muncul pada 16 Mei 2018, dimana ujung pelangi telah ditemukan disebuah jalan tol di California, Amerika Serikat. seorang Fotografer mengabadikan ujung pelangi yang menyentuh aspal tetapi tidak ada seekor naga, bidadari ataupun tong emas seperti yang banyak dibicarakan, tanpa berlama-lama kebingungan ilmu pengetahuan atau Sains kembali menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi karena beberapa hari sebelumnya ada badai yang kemudian menyisakan pusaran-pusaran yang bergerak dari pegunungan dan itu menyebabkan pelangi dapat berpindah hingga menyentuh tanah dipermukaan bumi. Jadi perihal pelangi sudah selesai dengan penjelasan yang lebih logis sehingga masyarakat mulai meninggalkan kepercayaan pada mitos kuno seperti bidadari dan mitos lainnya.

Beralih pada kasus selanjutnya ternyata Sains sangatlah berpengaruh terhadap berkembangnya kehidupan. Jangankan Sains tidak ada di dunia, Sains tidak berkembang pun maka kita akan tertinggal dengan segala macam hal. Contohnya teori Abiogenesis (generatio spontanea) yang sangat terkenal dimana dipercayai bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Teori ini membuat Orang-orang yang hidup bertahun-tahun lampau sangat percaya bahwa katak dan ikan berasal dari lumpur karena mereka melihat kedua hewan itu hidup disana, mereka juga percaya bahwa belatung lahir dari daging dan makanan busuk lainnya. Pertanyaannya, apa Kita semua sebagai makhluk modern dapat percaya bahwa benda mati bisa menghasilkan suatu kehidupan?

Bersyukurlah Kita semua karena para ahli atau Ilmuwan Sains selalu melakukan percobaan-percobaan sehingga ilmu pengetahuan tidak mengalami ketertinggalan, perkembangan Sains ini dapat diambil contohnya dari masa dimana Teori Abiogenesis yang dipopulerkan Ilmuwan seperti Aristoteles dan Anthony Leuwenhoek disanggah pada abad ke 19 oleh Ilmuwan seperti Francesco Redi dimana dia mengklaim atas dasar hasil percobaannya bahwa belatung bukan berasal dari daging yang membusuk tetapi dari telur yang diproduksi lalat ketika hinggap diatas daging, pendapat ini didukung oleh percobaan yang dilakukan Lazarro Spallanzani yang menggunakan rebusan kaldu ayam di dua wadah, kaldu yang berada diwadah tertutup nampak jernih semetara yah diwadah terbuka menjadi keruh dan berbau busuk, itu artinya ada kegiatan mikroorganisme. Meski pada awalnya kedua percobaan ini kurang didukung, tetapi pada akhirnya Louis Pasteur menyempurnakan dengan alatnya sendiri hingga teori makhluk hidup berasal dari benda mati dapat dipatahkan. Teori yang baru adalah teori Biogenesis yang menegaskan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lainnya.

Sampai saat ini kita semua mempercayai teori Biogenesis tersebut dengan berpegang pada tiga asasnya yang berbunyi:

  • Omne vivum ex ovo: Semua makhluk hidup berasal dari telur
  • Omne ovum ex vivo: Semua telur berasal dari makhluk hidup
  • Omne vivum ex vivo: Semua makhluk hidup berasal dari makhluk hidup.

Teori-teori diatas menjadi bukti bahwa Sains mengalami perkembangan yang akurat, kalau tidak tentunya kita masih akan percaya dengan katak yang lahir dari lumpur dan semacamnya.

Kasus mitos atau fiktif kuno yang terakhir akan dibahas adalah “Bermuda Triangle” atau Segitiga Bermuda. Perairan yang terbentuk diantara Kepulauan Bermuda, Miami-Florida dan San Juan-Puerto Rico ini merupakan tempat paling misterius dan mengerikan di dunia. Banyaknya kapal dan pesawat yang tengah melakukan perjalanan namun menghilang dan tak pernah ditemukan kembali di perairan ini menjadikannya sebagai perairan yang paling dihindari oleh masyarakat dunia, orang-orang menjuluki Bermuda dengan julukan “Sarang Setan” dan mulai menggembar-gemborkan hal-hal yang kurang rasional seperti adanya keterkaitan dengan penghuni luar angkasa bahkan Surga dan Neraka.

Lagi dan kembali lagi Sains yang dijunjung tinggi para Ilmuwan dunia berhasil memecahkan teka-teki rumit dari Bermuda, ternyata hilangnya berbagai transportasi yang melintasi kawasan Bermuda disebabkan oleh fenomena alam “Killer Cloud”. Fenomena awan pembunuh ini dideskripsikan sebagai serangan bom udara yang menyebabkan angin berkecepatan 273,6 km/jam sehingga angin itu dapat memporak-porandakan kapal dan pesawat sampai akhirnya terseret kedasar perairan.

Bahkan Meteorologis  Spesialisasi Satelit dari Colorado State University, Dr. Steve Miller menanggapi bahwa biasanya awan-awan hanya tersebar secara tak beraturan seperti kebanyakan, namun Killer Clouds adalah awan dimana kumpulannya membuat garis yang benar-benar lurus. Laporan juga menyebutkan bahwa awan-awan pembunuh berukuran raksasa ini kerap kali muncul di atas ujung barat Segitiga Bermuda dan terbentuk sepanjang 32 hingga 89 km dan kenampakannya sangatlah mengerikan.

 Itulah beberapa Mitos atau kepercayaan kuno yang dapat dijawab oleh Sains sekaligus menjelaskan betapa pentingnya Sains atau ilmu pengetahuan. Seberapa dahsyatnya Sains dalam menguak fiktif-fiktif kuno dalam proses berlangsungnya kehidupan di dunia.

Sebagai manusia tentunya kita harus bijak dalam mengambil simpulan atau pola pikir yang akan mendasari kita dalam proses berlangsungnya hidup, fiktif kuno tentunya patut dihormati sebagai keberlangsungan estetika budaya namun lebih baik lagi jika kita meninjau sudut pandang Sainsnya terlebih dahulu. Selain itu hasil telaah dari penelitian Sains juga akan sangat berguna jika didorong  dengan ilmu-ilmu seperti ilmu agama dan lainnya agar kita dapat mengambil banyak pembelajaran dan fakta. Semoga informasi dalam tulisan ini banyak memberikan manfaat. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *