fbpx
Kamis , 22 April 2021
Beranda / Artikel / Santri dan Transformasi Peradaban

Santri dan Transformasi Peradaban

Penulis: Dr. Ahmad Sastra
(Dosen Universitas Ibnu Khaldun, Alumni Pesantren Darul Muttaqien, Bogor)

Tulisan ini dipersembahkan untuk memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober. Santri adalah muslim yang secara formal belajar dan tinggal di pesantren. Pesantren tradisional biasanya tidak membatasi berapa lama seorang santri tinggal di pesantren untuk menuntut ilmu kepada kyai. Sementara pesantren modern yang membuka pendidikan formal biasanya membatasi santri pada jenjang tertentu, misalnya hingga Madrasah Aliyah atau Ma’had ‘Aly.

Pesantren, tempat tinggal santri adalah lembaga pendidikan Islam berbasis asrama yang memberikan pelayanan pendidikan 24 jam. Sebab semua yang dilihat, di dengar, dan dirasakan oleh santri dalam pesantren itu bernilai pendidikan. Dari bangun tidur hingga tidur lagi adalah proses belajar santri di pesantren. Karena itu pesantren harus ada Kyai, masjid, kitab, asrama dan santri itu sendiri.

Selain sebagai manusia biasa, ia menjadi istimewa karena membawa predikat santri di pundaknya. Sebab santri adalah orang yang ditempa dengan ajaran Islam saat di pesantren dan harus menebarkan ilmu yang dimilikinya saat telah hidup di pesantren besar yang namanya masyarakat. Di pesantren, bisa dikatakan sebagai santri formalitas, namun saat di masyarakat menjadi santri transformatif. Dengan predikat santri, ia harus mentransformasikan ilmunya melalui dakwah dan pendidikan untuk membangun masyarakat Islami.

Jika ulama adalah pewaris Nabi, maka santri adalah calon pewaris Nabi. Karena itu santri dan ulama selalu menjadikan Rasulullah sebagai sumber teladan. Muhammad adalah manusia biasa, hanya menjadi istimewa saat berpredikat sebagai Nabi dan Rasul. Istimewa karena Nabi adalah manusia yang diberikan amanah oleh Allah Sang Pencipta sebagai pembawa risalah suci berupa ajaran agama  Islam. Istimewa karena, beliau  memberikan petunjuk hidup bagi umat manusia di muka bumi agar mereka terselamatkan dan mencapai kebahagiaan hakiki.

Salah satu perilaku agung beliau adalah kejujurannya. Sejak usia muda beliau telah diberikan julukan Al Amin karena beliau merupakan orang yang bisa dipercaya oleh siapapun karena teguh memegang amanah dan jujur. Kepedulian beliau terhadap nasib masyarakat muncul sejak kecil. Hingga usia yang ke 20, beliau telah peduli dan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Karena itulah Allah menegaskan dalam Firman-Nya dalam surat Al Ahzab ayat 21 bahwa “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Perjalanan kenabian Rasulullah adalah perjalanan dakwah dan perjuangan untuk membangun sebuah peradaban agung yang sarat dengan nilai-nilai religius, menggantikan peradaban jahiliyah yang paganistik dan amoral. Beliau bukan hanya dikenal sebagai pemimpin duniawi, melainkan juga pemimpin agama sekaligus. Hal ini menegaskan bahwa Islam bukanlah agama ritualistik semata, melainkan sistem kehidupan yang sempurna dan holistik. Islam mengajak kepada kehidupan yang agung di dunia dan kebahagiaan di akhirat menggantikan sistem kehidupan yang sekuleristik.

Visi transformatif dari peradaban jahiliah menjadi peradaban profetik inilah yang mengantarkan Rasulullah memiliki peran sempurna dalam upaya merealisasikan Islam rahmatan lil’alamin sepanjang perjalanan dakwah putra Abdullah ini. Tidak mengherankan jika Michael D. Hart, seorang cendekiawan Barat, menempatkan Rasulullah sebagai urutan pertama tokoh dunia paling agung dan berhasil dalam menegakkan peradaban kemanusiaan.

Menurutnya, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa dalam hal dunia maupun agama. Dia sukses memimpin masyarakat yang awalnya terbelakang dan terpecah belah menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran.

Kesempurnaan Rasulullah sebagai agen peradaban profetik ditunjukkan dengan berbagai peran strategis yang diembannya. Beliau adalah seorang negarawan terkemuka yang ahli  politik sekaligus  hakim paling adil sepanjang sejarah. Rasulullah juga merupakan pemimpin agung yang mampu membawa  kehidupan masyarakat yang penuh kesejahteraan, keamanan dan kebahagiaan.

Selain itu beliau juga seorang pedagang paling jujur dalam melakukan transaksi perdagangan, tidak menggunakan riba dan selalu menjual barang-barang yang baik dan halal.  Bisnis yang dijalankan Rasulullah merupakan prototype ekonomi Islam sebagai salah satu pilar peradaban profetik.

Tidak hanya sampai sebatas ini, Rasulullah juga merupakan tokoh peletak dasar perjuangan atas nama kemanusiaan seluruhnya agar menuju jalan lurus  yakni Islam.  Dalam bidang militer, Rasulullah adalah sosok  pemimpin militer yang luar biasa berani dan memiliki strategi yang jitu, terbukti dengan kemenangan berbagai peperangan melawan kaum dzalim. Dari segi keluarga, Rasulullah juga merupakan ayah dan suami teladan dengan  berbagai perannya yang mulia. Dari kemuliaan beliau sebagai seorang ayah dan suami telah melahirkan berbagai kajian pedagogik sepanjang sejarah.

Warisan sejarah bukanlah sekedar sebuah romantisme tanpa makna atau hanya sekedar menjadi berhala tanpa ruh yang dibanggakan dan diceritakan dimana-mana. Sejarah juga bukan sekedar dokumentasi naratif yang hanya dipampang di rak-rak perpustakaan. Sejarah perjalanan dakwah Rasulullah  adalah sebuah warisan nilai yang dibangun di atas keyakinan dan ghirah perjuangan untuk mewujudkan peradaban mulia. Karenanya sejarah Rasulullah bukanlah sekedar warisan konseptual belaka melainkan juga merupakan warisan metodologis yang bisa diaplikasikan pada masa kini oleh para santri guna mentransformasikan peradaban jahiliah modern menjadi peradaban Islam abad 21 ini.

Untuk itu, dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional ini, santri, ulama dan bangsa ini mestinya meneladani kepribadian Rasulullah yang agung ini. Saatnya umat dan bangsa ini berbenah diri menuju bangsa yang memiliki peradaban agung. Peradaban profetik bukan hanya masalah kemuliaan, kemajuan, melainkan juga merupakan syarat diakui sebagai umat Rasulullah kelak di akhirat.

Peradaban profetik mewujudkan manusia beradab, adil, bahagia dan sejahtera dunia dan akherat. Mari kita ekspresikan kecintaan kepada Rasulullah dengan mewujudkan peradaban bangsa berbasis nilai-nilai kenabian. Jadilah santri transformatif pejuang tegaknya peradaban Islam abad 21. Selamat Hari Santri Nasional. Allahu Akbar. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Pesantren Tidak Berpolitik Praktis

Dalam acara ILC TV ONE yang  bertajuk Ijtima’ Ulama 2, Berebut Suara Umat Islam ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *