fbpx
Senin , 17 Februari 2020
Beranda / Artikel / Stop Hoax dengan Aplikasi Info BMKG
Ilustrasi Tampilan Aplikasi Info BMKG

Stop Hoax dengan Aplikasi Info BMKG

Penulis: Ahmad Asyhadi
(Pengamat Teknologi Informasi STIKOM DB Jambi)

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mataram mencatat terdapat 459 jumlah gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Barat sejak Januari-Juni 2018. Belum lagi ditambah dengan data-data gempa wilayah lainnya di Indonesia. Bila kita asumsikan dalam rentang setahun, jumlah kejadian gempa bisa mencapai ribuan dengan kekuatan gempa yang bervariasi, dari yang kecil di bawah 5 Skala Richter hingga di atas 6 SR.

Baru-baru ini kita kembali merasakan duka yang mendalam atas kejadian gempa dan tsunami yang terjadi kepada saudara-saudara kita di Palu, Sigi, Donggala dan sekitarnya. Di media sosial, kita melihat video detik detik terjadinya gempa dan tsunami diunggah netizen. Tegang dan mengerikan. Tanah yang membelah, gelombang air laut setinggi 2 meter menghantam rumah rumah dan gedung gedung. Tercatat 1.571 korban jiwa yang tewas dan terus bertambah korban-korban yang belum ditemukan.

Akibat peristiwa alam itu ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Korban yang selamat bergerak pindah menuju tempat yang lebih aman. Di tempat keluarga mereka atau tinggal di pengungsian. Banyak keluhan-keluhan yang mereka utarakan di pengungsian, mulai dari kekurangan air bersih, makanan, selimut hingga toilet umum.

Prediksi tsunami di Sulawesi Tengah mengundang banyak kecaman dan polemik di masyarakat. Dikabarkan oleh media lokal setempat bahwa alat deteksi tsunami di Sulteng rusak sejak 2012 lalu akibat gempa juga. Oleh karena tak berfungsinya, pihak BMKG mencabut alat peringatan tsunami tersebut.

Alat pendeteksi tsunami yang dimiliki BMKG bernama seismograf. Cara kerjanya, ketika terjadi gempa bumi, alat ini akan merespons dan mengirimkan data melalui satelit komunikasi ke BMKG Pusat. Data ini digunakan untuk mencari pusat, kekuatan, dan kedalaman gempa, juga untuk menentukan apakah gempa itu berpotensi tsunami.

Ya memang yang namanya bencana tidak ada yang tahu pasti kapan akan terjadinya, namun dengan teknologi yang telah ada sesungguhnya manusia telah mampu memprediksi kejadian alam yang akan datang meskipun tidak 100% akurat, tetapi tetap saja akan berguna untuk kita menjadi lebih waspada.

Seperti di Jepang, sistem pendeteksi tsunaminya lebih cepat dan presisi dalam memprediksi tsunami setelah terjadinya gempa besar. Yaitu sebuah perangkat berbentuk bundaran yang dapat mengukur Broadband Strong Motion Meters yang terpasang di 80 titik di Jepang.

Perangkat pendeteksi tsunami lainnya dipasang di laut, ada tiga alat yang disebut sebagai DART. Alat ini dipasang di bawah laut sekitar Samudra Pasifik yang terdiri dari sensor tekanan dan dapat mengirimkan pesan ke buoy yang mengambang di permukaan terkait informasi tsunami.

Sistem baru tersebut juga termasuk perluasan jaringan dari stasiun seismik di Jepang yang tersebar di berbagai wilayah Jepang. Teknologi ini didukung operasional berskala besar untuk memastikan warga yang tinggal di area paling berisiko dapat menerima peringatan tsunami serius dalam waktu 3 menit.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk menghindari informasi hoax dari oknum yang tidak bertanggung jawab, sekarang ini sudah ada aplikasi resmi dari BMKG yang dapat memberikan informasi valid mengenai bencana alam di wilayah Indonesia.

Untuk menggunakan aplikasi Info BMKG, sebelumnya Anda harus mengunduh aplikasi ini secara gratis di playstore. Pada aplikasi tersebut ada beragam fitur yang bermanfaat bagi masyarakat seperti informasi prakiraan cuaca di seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia dan juga terdapat informasi mengenai kualitas udara di berbagai wilayah.

Selain itu aplikasi ini juga menyajikan informasi mengenai gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia dengan kekuatan guncangan di atas 5 skala ritcher, dan disertai dengan jarak lokasi titik gempa dengan lokasi pengguna saat ini. Namun begitu informasi yang akan diterima pengguna aplikasi kurang lebih sekitar 5 menit pasca gempa, hal tersebut dikarenakan informasi yang diperoleh BMKG harus diolah terlebih dahulu dengan menggunakan data dalam skala modified mercalli intensity sebelum akhirnya muncul di aplikasi.

Sebenarnya aplikasi ini telah dirilis tahun 2016 lalu namun menjadi populer setelah kejadian bencana gempa dan tsunami di wilayah Palu beberapa waktu lalu, dan kini telah di unduh lebih dari 1 juta pengguna di playstore. Dari berbagai review yang diterima aplikasi ini dari masyarakat cukup banyak ulasan yang positif dan aplikasi ini membantu untuk mengetahui informasi terkini mengenai cuaca dan kejadian bencana gempa yang terjadi di wilayah Indonesia. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Adakah Hubungan Penanganan Bencana dengan Lifestyle Sebuah Bangsa?

Mengapa terjadi bencana serupa dan berulang? Mengapa gempa dan tsunami? Mengapa di Palu? Mengapa hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *