fbpx
Senin , 17 Februari 2020
Beranda / Artikel / Bisakah Indonesia Meniru Jepang Dalam Menangani Gempa dan Tsunami?
Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART), sebuah alat terkoneksi jaringan penginformasi gelombang tsunami. (Sumber: nctr.pmel.noaa.gov)

Bisakah Indonesia Meniru Jepang Dalam Menangani Gempa dan Tsunami?

Penulis: Mirqotul Aliyah
(Alumnus Universitas Airlangga Program Studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan)

Belum habis kaget akan bencana di Lombok pada 29 Juli 2018, Indonesia kembali dikagetkan dengan gempa magnitude 7,7 SR di Sulawesi Tengah meliputi daerah Palu, Donggala dan Sigi. Pada tanggal 28 September 2018 sehari sesudah peringatan ulang tahun kota Palu gempa yang diikuti tsunami telah terjadi.

Indonesia memang memiliki kekayaan alam yang luar biasa, gunung dan lautan adalah daya tarik wisatawan yang menggiurkan. Namun, dibalik kekayaan yang melimpah ada tanggung jawab yang besar yaitu bersahabat dengan alam. Persahabatan Indonesia dengan alam agaknya belum terlalu erat sehingga jika terjadi bencana, Indonesia belum siap “menyambut” kedatangannya.

Selain Indonesia, salah satu negara yang wajib bersahabat dengan gempa dan tsunami adalah Jepang. Jepang pernah mengalami gempa terbesar di dunia yaitu sebesar 9 SR yang membuat Jepang cukup chaos. Belajar dari pengalaman, Jepang memilih untuk bersahabat dengan gempa dan tsunami. Tindakan preventif dilakukan untuk meminimalisir korban serta kerugian akibat bencana alam. Bahkan dari anak kecil sudah dilatih bagaimana “meyambut” kedatangan bencana alam tersebut.

Pada tahun 2011 Jepang ditimpa bencana gempa dan tsunami yang diberi nama Tohoku 2011. Bencana alam ini menelan banyak korban jiwa, kehancuran bangunan, dan yang paling parah adalah rusaknya instalasi nuklir di Fukushima. Hal yang pertama dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah pengosongan wilayah dengan radius 20 km, mengingat efek radiasi yang sangat berbahaya. Tidak hanya pemerintah, semua elemen masyarakat turut membantu. Respon cepat datang mulai dari badan yang bertanggung jawab terhadap bencana hingga pasukan bela diri Jepang. Bahkan slot iklan di televisi dibeli oleh pemerintah guna memberikan kabar terkini mengenai gempa dan tsunami.

Berdasarkan kejadian itu, Jepang mengeluarkan dokumen tanggap bencana Tohoku 2011 yang dibagi menjadi 3 bagian penting yaitu tanggap darurat, rehabilitasi, dan rencana pemulihan. Sedangkan untuk pendekatan perencanaan terkait dokumen itu terdiri dari perbaikan transportasi, keamanan tempat tinggal dan rencana pembangunan kembali.

Pembangunan transportasi sangat penting karena berkaitan dengan evakuasi korban bencana alam, mempermudah penyaluran bantuan dan lebih ke depan lagi untuk mempermudah masyarakat terhubung dengan daerah lain. Terkait dengan keamanan tempat tinggal, Jepang membuat public housing untuk masyarakat menengah ke bawah guna menjamin keberlangsungan hidup bagi korban bencana. Dan untuk pendekatan yang terakhir rencana pembangunan kembali berkaitan dengan penyederhanaan perizinan, mewadahi pembangunan baru dan menyegerakan pembangunan tempat tinggal.

Tidak hanya bersifat bantuan dan perencanaan, Jepang Juga melakukan riset  terkait dengan bencana terutama gempa dan tsunami. Beberapa hal yang dihasilkan antara lain, zona tata ruang pasca bencana guna memberikan informasi ketepatan fungsi ruang. Penataan zona ini berdasarkan periode ulang kejadian 50 tahunan hingga 500 tahunan. Penelitian mengenai batu-batu pemecah gelombang tsunami di pinggir pantai, membuat inovasi rumah tahan gempa, sistem peringatan dini. Semua itu terus digalakkan dengan kucuran dana yang cukup besar mencapai 3 triliyun yen.

Jepang sangat terlihat lebih siap dibandingkan Indonesia dalam menghadapi bencana, lalu apakah Indonesia bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jepang?

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dan pembeda penanganan gempa, tsunami antara Indonesia dan Jepang adalah jelas luas wilayah. Luas wilayah Jepang tidak lebih luas dibandingkan dengan pulau Sumatra, Indonesia. Hal ini berkaitan dengan pembangunan. Jikalau pemerintah berkehendak membangun misalnya, bangunan tahan gempa atau bendungan tahan tsunami tentu Indonesia membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan Jepang.

Selanjutnya adalah ekonomi. Seperti yang telah diketahui Jepang merupakan negara yang maju dan menjadi salah satu negara dengan ekonomi yang kuat didunia sedangkan Indonesia belum sekuat itu. Indonesia dilihat dari pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia hanya 1% sedangkan Jepang mencapai 5%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum kuat membuat pemerintah harus pintar-pintar mengatur keuangan negara guna pembangunan yang belum merata. Pembangunan infrastruktur di Indonesia semakin digalakkan dibandingkan sektor lain. Hal ini menyebabkan sektor yang berkaitan dengan bencana sedikit teracuhkan walaupun bukan terlupakan namun anggaran yang diberikan belum memenuhi kebutuhan-kebutuhan terkait bencana alam.

Banyak hal yang dapat mempengaruhi Indonesia tidak bisa dibandingankan dengan Jepang namun tindakan menutup mata akan keberhasilan Jepang dalam mempersiapkan warganya untuk menghadapi bencana tidak boleh dilakukan. Salah satu keberhasilan Jepang dalam menyadarkan warganya adalah sosialisasi yang terus digiatkan.

Indonesia sebaiknya meniru langkah tersebut agar warga terbiasa melakukan tindakan prefentif jika perlu pemerintah bisa menggandeng elemen masyarakat seperti mahasiswa. Selain itu warga Indonesia jangan hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat dapat memulai belajar mandiri, seperti melihat di youtube tanda-tanda gempa atau tsunami, apa yang harus dilakukan pertama kali, mempersiapan ransel untuk setiap anggota keluarga berisikan keperluan mengungsi, mengenali daerah yang ditinggali beserta bencana alam yang pernah terjadi sehingga dapat waspada jika terjadi lagi.

Akhirnya, tidak ada yang tahu adanya bencana sebelum bencana itu datang sendiri pada kita. Ujian kemanusiaan dan ketaqwaan adalah salah satu hikmah dari bencana alam. Tuhan selalu memberi harapan sesudah bencana untuk introspeksi diri sampai mana derajat yang sudah digapai sampai saat ini. []

Tentang Bukit Gagasan

BUKIT GAGASAN adalah wahana mengekspresikan pendapat, pemikiran dan komentar-komentar dari para penulis terpilih. Gagasan yang dipublikasikan dapat berbentuk opini, analisis, kritik, refleksi, kisah inspiratif, atau solusi atas suatu permasalahan dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, dan kebudayaan

Cek Juga

Adakah Hubungan Penanganan Bencana dengan Lifestyle Sebuah Bangsa?

Mengapa terjadi bencana serupa dan berulang? Mengapa gempa dan tsunami? Mengapa di Palu? Mengapa hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *